Popular Posts
-
Ayah, ijinkan aku bersamanya…. ayah,kini putri kecilmu sudah menjadi dewasa aku sudah bisa menyayangi lelaki lan selain dirimu dan kakak a...
-
G m hiboo.co - Makanan pedas biasanya rasanya juga enak, meski banyak yang tidak kuat dengan makanan pedas. Berbicara makanan terpedas, ...
-
Liputan6.com, Jakarta : Payudara mungkin jadi bagian paling indah dari tubuh wanita. Kaum hawa selalu sadar betapa dahsyatnya dampak yang ...
Labels
Ala Infu5
Arsyad Indradi
Artis
Biografi
CERPEN
Cerpen Indonesia
Chairil Anwar
Ibu Hamil
Ibu dan Anak
Ideologi Pancasila
Info
Kahlil Gibran
Kata Mutiara
Kebudayaan
Keterampilan Belajar
Kisah Nyata
Masakan Korea
My Award
PUISI
PUISI MY FRIEND
Rahasia Pria
Rahasia Wanita
Remaja dan Cinta
Seni
T. Sandi Situmorang
TIPS
TIPS USAHA
Tips Anak
Tutorial Blog
UNIK
UNLAM
Ungkapan Hati
Wisata Indonesia
about me
bubur
catatan kehidupan
cemilan
gigi
kesehatan
model pembelajaran
ngga penting
orang dewasa
pariwisata
pendidikan
puding
puisi Q
resep ice krim
resep kue
resep masakan
resep masakan barat
resep masakan indonesia
resep minuman
rumah tangga
sex
sexs
steak
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 November 2011
Minggu, 01 Mei 2011
Jalan Kembali Pulang By. Arsyad Indradi
Jalan Kembali Membentang
Mengosongkan bilik hati jadi ruang hampa
Jadi altar riwayat usia
Jiwa menyulut malam pijar memancar
Menyibak awan dalam jagat kelam
Api harapan dalamanya anganangan
Debar tumpah kenangan resah
Saat puput terakhir membuka gerbang
kehidupanMenatap antara keduanya masihkah ada cinta
Altar basah airmata sisigan impian
Tuhan beri aku lagi jalan
Beri aku zikir pada musafir
Beri aku doa pada fakir
Biarkan aku gila mengejar cahaya kerinduan
Mengejar cahayamu tuhan
“Enampuluhsatu lilin merah tiuplah
Padamkan ruang hampa padamlah segala dendam
Kembali melangkah jejak perjalanan panjang
Kaukah kado masa depan sayang”
kssb,31 Des 2010 (Mlm Ultahku ke-61)
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Nalam Buat Yessika By. Arsyad Indradi
Adakah lebih sanggama dari putik bunga
Dari kupukupu beribu warna
Kelopak romansa aroma semarainya
Tapi tibatiba jadi terbang kepak melayanglayang
Taman sukma jadi bayangbayang
Sejak kita di beranda itu Yessika
Kita pun tak pernah mampu menutup rawi kita
Yang tak habis ditulis dendamnya rindu
Saat berkaca pada jatuhnya tetes airmata
Yang selalu luput menafsir bahasa cinta
Sui Lan bisikmu lalu menatap cakrawala
Siapa meniti awangemawan yang berarak
Hatiku berkacakaca :
Duhai dua jiwa satu raga, satu jiwa dua raga
Tangan kita erat bergenggaman
Lalu kita pun melabuh sampan
Dari Barito dari Batanghari
Lalu kita dendangkan nalam kita :
( Sui Lan ) : Tebing mana menyimpan selaksa duka
Seloka luka
Kayuh bersimpuh
Mencari kemana riak arus pupus
( Yessika ) : Karang mana menyimpan selaksa duka
Seloka lara
Rindu yang luruh
Mencari kemana tempat berteduh
( Sui Lan ) : Barito mengalirkan dalamnya anganangan
Sungai tak ada lagi persinggahan
Putri junjung buih bermandi buih
( Yessika ) : Batanghari mengalirkan dalamnya impian
Sungai tak ada lagi tepian
Putri mayang bermandi mayang
Konon sampan itu Yessika masih juga berlabuh
Seperti tiada pernah sangsi mencapai muara ”DAMAI”
Aku masih ingat sayang kau menarik napas panjang
kssb,2 Jan 2011
(”DAMAI” = DAM-AI =Dimas Arika Mihardja –Arsyad Indradi)
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Surat Kepada Jeng Kartini By. Arsyad Indradi
Jumat, 29 April 2011
Setiap april aku tak jemu menulis surat
Dan tak berharap banyak untuk dibalas
Apa yang kutulis serupa curahanhati
Seperti halnya suratmu kepada Abendanon
Di April ini aku masih menulis
Tapi tidak seperti biasanya pada sepucuk kertas
Langit lebih leluasa merajut isi batinku
Dan Laut lebih leluasa mengombakkan maksudku
Mungkin kau merenung suratku bertinta merah
Tinta di telaga sejarah
Yang mengalir dari lubang peluru penjajah
Mengalir dari dada perempuanperempuan perkasa Jeng Kustiyah,
Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Ratu Zaleha dan ribuan perempuan perkasa yang luput dari catatan pekerja sejarah
Mungkin juga kau Jeng tafakur suratku lusuh dan basah
Karena larut di airmata perempuaperempuan malang
Pelacur,TKW,perempuan dalam kardus,perempuan kuning, penyadap karet,buruh kelapa sawit,buruh pabrik,pengemis,perempuan simpanan dan ribuan perempuan yang ternista di negeri yang sudah merdeka ini tetapi kehilangan ruh kemerdekaannya
Tanganmu gemetar membuka cermin hidupmu masa lampau
yang tak berdaya melepas pasungan ningratmu
Dan di dalam bilik peradaban purba menulis beberapa pucuk surat kepada sahabatmu di Belanda
seperti halnya perempuan penyair menulis sajak
menyuarakan hatinurani kaum perempuan
menyuarakan nasib buruk negeri ini
Berkalikali kubaca tulisan penutup suratmu yang kau layangkan padaku Jeng :
Yang lebih pantas hari perempuan bersejarah itu adalah “Hari Ibu”
kssb,21 April2011
Dan tak berharap banyak untuk dibalas
Apa yang kutulis serupa curahanhati
Seperti halnya suratmu kepada Abendanon
Di April ini aku masih menulis
Tapi tidak seperti biasanya pada sepucuk kertas
Langit lebih leluasa merajut isi batinku
Dan Laut lebih leluasa mengombakkan maksudku
Mungkin kau merenung suratku bertinta merah
Tinta di telaga sejarah
Yang mengalir dari lubang peluru penjajah
Mengalir dari dada perempuanperempuan perkasa Jeng Kustiyah,
Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Ratu Zaleha dan ribuan perempuan perkasa yang luput dari catatan pekerja sejarah
Mungkin juga kau Jeng tafakur suratku lusuh dan basah
Karena larut di airmata perempuaperempuan malang
Pelacur,TKW,perempuan dalam kardus,perempuan kuning, penyadap karet,buruh kelapa sawit,buruh pabrik,pengemis,perempuan simpanan dan ribuan perempuan yang ternista di negeri yang sudah merdeka ini tetapi kehilangan ruh kemerdekaannya
Tanganmu gemetar membuka cermin hidupmu masa lampau
yang tak berdaya melepas pasungan ningratmu
Dan di dalam bilik peradaban purba menulis beberapa pucuk surat kepada sahabatmu di Belanda
seperti halnya perempuan penyair menulis sajak
menyuarakan hatinurani kaum perempuan
menyuarakan nasib buruk negeri ini
Berkalikali kubaca tulisan penutup suratmu yang kau layangkan padaku Jeng :
Yang lebih pantas hari perempuan bersejarah itu adalah “Hari Ibu”
kssb,21 April2011
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Romansa Setangkai Bunga By. Arsyad Indradi
Sempurnakan jerit setangkai bunga
Agar mimpi jangan gelisah
Waktu pagi dibasuh tangisan kecil
Tapi aku tak ingin siapa pun
Mengusik ujung kelopaknya
Sebab setiap tetes embun
Adalah suara rintihan riwayat
Kerinduan
Tak perlu jambangan
Sebab akulah jambangan setiap rintihan
Tuhan kutaruh keyakinan
Jangan kau sembunyi di balik angan-angan
Banjarbaru, 2001
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Kisah Satangkai Kambang By. Arsyad Indradi
Sampurnaakan ingui satangkai kambang
Supaya mimpi daham galisah
Wayah baisukan dibasuh tangisan kacil
Tapi aku kada handak siapa haja
Maaur hujung kalupaknya
Sabab satiap titik ambun
Adalah suara rintihan riwayat
karinduan
Kada parlu jambangan
Sabab akulah jambangan satiap rintihan
Tuhan kutaruh kayakinan
Jangan angkau sambunyi di balik anganangan
Banjarbaru, 2001
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Musafir Rindu By. Arsyad Indradi
Banyak orang mengira aku ini gila
Menertawai dan mencemoohku
Karena mereka tidak pernah menyelami risalahku
Wahai andai mereka tahu pasti mereka
Akan berdesakan ke pantai di mana kaki mereka
di pasir dengan mesra diciumi alunan ombak
takjub menyaksikan fenomena lautku
Dan mereka mengagumi karangku ketika dilanda ganasnya gelombang
Atau bersama camar bernyanyinyanyi di lubuk hatiku
Atau mereka akan menangisi dirinya sendiri karena
dahaga di gurungurun tandusku
Atau mereka tersedusedu ketinggalan kompas
ketika tersesat di rimbarimbamimpiku
Atau mereka menyesali diri tak mampu menyelamatkan
dirinya sendiri ketika terjatuh ke jurang hatiku
Ah tak habis risalahku ini kuutarakan walau matahari diurungkan ke barat
Tapi wahai andai pun aku ini gila
Pintaku biarkan aku gila dalam cintamu
Banjarbaru,2002
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Seorang Gadis Di Muka Jendela By. Arsyad Indradi
Wahai bagaimana aku bisa lari dari diriku sendiri
Airmataku tak keringkering menetesi rinduku
Jangan kau tipu lagi aku wahai langit khayalku
Kemana kau sembunyikan bulan dan bintang
Menjadikan hatiku lumpuh di padamnya malam
Kau mengusik pembaringanku tak hentihenti
Aku begitu tergesagesa berdandan menuju tidur
Wahai dusta mimpiku
Datang, o datanglah yang bersemayam di balik fajar
yang menjadikan aku merindu
Aku cemburu pada kicau burungburung
dalam pelukan cahya surya
Aku iri pada bungabunga bermandikan embun
O datang, datanglah padaku
Aku tak mampu lari dari diriku sendiri
Wahai
Banjarbaru,2001
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Baturai Pantun By. Arsyad Indradi
Cuka laang di dalam cupak
Kulang kaling buah timbatu
Takurasam kurihing simpak
Handak bujang tapilih balu
Mun malala santan Birayang
Nyiur gading nyiur tundunan
Mun talihat si ading bujang
Liur baik liur baungan
Kaluang guring bagantung
Bagantung di puhun kupang
Mun nasib kada bauntung
Di tangan diambil urang
Banjarbaru, ‘93
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Mata Hati By. Arsyad Indradi
Apa yang kau harapkan pada kasatmatamu dalam gelap
selain merabaraba atau menghentikan langkahmu
Suatu kali aku menjadi tamu pada sahabatku, kuketuk pintu,
kuucapkan salam. " ( Ia membalas dan menyebut namaku ),
masuklah pintu tak berkunci ". Kami berbincangbincang
Aku menjadi tamu lagi, dengan langkah pelan, kuketuk pintu,
aku tak mengucapkan salam. " ( Ia menyebut namaku),
masuklah pintu tak berkunci ". Kami berbincangbincang
seperti biasanya.
Aku bertamu lagi kali ini kakiku tak beralas
sehingga tak bersuara sedikit pun dan sangat pelan pintu kuketuk.
" (Ia menyebut namaku ), masuklah pintu tak berkunci ".
Banyak yang kami percakapkan.
Lama kami tak bertemu, aku kangen padanya.
Ketika sampai di muka beranda belum lagi naik
( pintu tertutup ) dari dalam sudah ada suara : "
( Menyebut namaku ), kemana saja lama tak bertandang,
masuklah dorong saja pintunya ". Subhanallah
Sahabat tunanetraku duduk di ruang tamu siap dua cangkir kopi.
Banjarbaru,1987
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Kendati Hujan Gerimis By. Arsyad Indradi
: r.sehan.w
kendati hujan gerimis
membenahi senja
kau masih juga memandang
lewat kaca jendela
mengeja bayangbayang
tapi tahukah kau
bahwa sungai telah merisalahkan
rumahrumah lanting
dalam sempurnanya senja
sebab gerimis mengekalkan
luruhnya cakrawala
pada sebuah pandang mata
maka tutuplah jendela
sungai dalam dirimu
akan mulai pasangpindua
Banjarmasin, 1972
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Nyanyian Seribu Burung By. Arsyad Indradi
Dalam padang rimba dunia
Di atas pohon bercabang lima
Ada nyanyian seribu burung
Lagu leluhur mengembang
Indahnya bumiku hijau
Meluncur keretapagi di atasnya
Putihnya putihmuda
Kami terbang di dalamnya
Adakah tetap saja jalannya kereta ini
Adakah tetap saja terbang kami bebas
Kami lihat kami lihat
Musim panas mengombak
Musim hujan mengepak
Mengapa engkau diam
Kubur saja mereka di sini
Di atas tumpukan kenangan
Sebelum petang tiba
Dalam padang rimba dunia
Di atas pohon bercabang lima
Ada nyanyian seribu burung
Ada bayi mati lemas dalam jantung
Banjarmasin, 1972
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Inkarnasi Buat Sang Kekasih By. Arsyad Indradi
Dirakit tujuh batang pisang tujuh tiang tebu merah
Berlangitlangit kain kuning di ruh sungai mengalir
Lengkaplah sudah tapaku tujuh purnama
Dan dalam janji wangsit
Telah kutambatkan di ulak banyumu
Maka berbuihlah hai buih
Cahaya bulan pengiring setanggi
Tujuh kuntum nagasari di taman sukma sejati
Kupetik atas nama tutus candi
Maka berujudlah hai Putri Buih anak babangsa
Di kukus dupa bersemayam hati yang rindang
Akulah bujang pilihan titis ruh Sukmaraga dan
Patmaraga
Yang bangkit dari Lubuk Badangsanak
Dalam lemakmanis minyaklikatbaburih
Mari kekasih kita turaikan segala rindu
Banjarbaru,1979
Putri Buih ( Putri Junjung Buih ), Sukmaraga dan
Patmaraga dalam cerita kisah Kasih Legenda rakyat
Banjar ( Kalsel ).
Edisi 14-20
Kumpulan Puisi Romansa Setangkai Bunga
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Gurindam Buat Sang Kekasih By. Arsyad Indradi
Aku adalah bahtera
Maka kau beri aku laut
Kau adalah pantai
Maka kuberi kau ombak
Aku adalah nakhoda
Maka kau beri aku kemudi
Kau adalah dermaga
Maka kuberi kau sauh
Tapi jika bahtera merapat ke dermaga
Pintaku jangan kau ajalkan rinduku
Banjarbaru,1981
Edisi 14-20
Kumpulan Puisi Romansa Setangkai Bunga
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Rindu Dendam By. Arsyad Indradi
Wahai rindu tunjukkan di mana rahasiamu
Cinta menjadikan aku pejalan jauh
Beri aku pengobat dukalaraku
Perihperi membuat aku dendam
Wahai lunaskan aku dari pasungan dendamku
Agar aku dapat masuk ke dalam misterimu
Mengajalkan cinta bukanlah hakikat kebenaran
Sebab aku tidak akan mencemaskan diriku sendiri
Aku tidak akan pernah mencemaskan diriku
Mengeringkan sejumlah gelas anggur
Sebab hakikat rindu adalah inti dari cinta
Yang lahir dari getar jiwa
Banjarbaru,1998
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Tangis Sekuntum Bunga By. Arsyad Indradi
Akulah paling bahagia punya rupa yang elok dan aroma wangi
Beribu ungkapan dan pelambang puja dan puji tentang diriku
Hidupku di tamantaman di potpot mau pun di jambangan berukiran indah
Aku selalu di vasvas penghias pesta meriah
Akulah pilihan sebagai ganti diri sebuah hati ketika
jejaka mengutarakan cintanya kepada sang kekasih
Dan akulah suntingan rambut si jelita ketika
menuju pelaminan dan pengharum ranjang pengantin
Ah rasanya kehabisan bahasa aku mengutarakannya
Tetapi setelah tahu risalahku
Duhai ternyata akulah paling malang di dunia ini
Menjadikan aku murung dan menangis
Menyadari keadanku ketika layu
Satupersatu tubuhku rontok
Dan berserakan di bumi lalu membusuk
Tak ada lagi yang mau peduli
Ternyata aku lebih buruk dari pada sampah
Wahai maafkan aku, Kekasih
Banjarbaru, 2002
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Aku Tenggelam Dalam Cintamu By. Arsyad Indradi
Duhai jangan kau sembunyikan rembulan
sehingga mataku serba kelam
Aku akan berlari ke telaga hatimu
Biarkan aku menceburkan diri
Biar hanyut dan tenggelam biarkan
Kau kan melihat tibatiba menjerit
dan mencemaskan diriku
Wahai jangan kau selamatkan aku, kekasih
Biarkan aku tenggelam sampai ke dasar cintamu
Dan terdampar di taman bunga hatimu
Akan kupetik sekuntum saja ya sekuntum saja
Bunga kasihmu
Pengobat rintihan malammalam sepiku
Banjarbaru,2003
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
Jatuh Cinta (Cinta Pertama ) Arsyad Indradi
Jantungku selalu berdebar setiap ada ketukan
Lalu bergegas membuka pintu
Atau menyingkap gorden jendela dengan jemari bergetar
lalu melongok perlahan, duhai
Tidak seperti biasanya, berlamalama berdandan
dan tersenyumsenyum sendiri di muka cermin
Terkadang menangis tanpa sebab
menelungkupkan wajah di bantal, duhai
Atau bersenandung di kamar mandi
Suatu kali aku cemas mengharapkan ia kembali
setelah kuusir dari hadapanku
Ah hatiku berbungabunga jika ia kembali
Entah apa aku selalu ingin menang sendiri
Aku sekarang rajin menata ruang tamu
dan menatah bunga di vas sambil tersenyum
Tingkahku wahai tak luput dari perhatian ibuku :
Gadisku, kenalkan siapa gerangan jejaka itu
Aku malumalu, tapi ibuku sudah tahu jawabku.
Ia bernada enteng tapi sungguhsungguh :
Cinta banyak membawa perubahan sikap seseorang
Pesanku bijaklah terhadap cemburu dan rindu
Sebab ia terkadang membuat hati kita menjadi aneh
Mataku berkacakaca dalam pelukan ibu
Banjarbaru,2002
Categories
Arsyad Indradi,
PUISI
PRAJURIT JAGA MALAM By. Chairil Anwar
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
1948
Siasat,
Th III, No. 96
1949
Categories
Chairil Anwar,
PUISI
MALAM By. Chairil Anwar
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957
Categories
Chairil Anwar,
PUISI
Langganan:
Postingan (Atom)
