Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Mei 2011

Sang Primadona By. A. Mustofa Bisri

Diposting oleh eva yuanita di 5/01/2011 06:56:00 PM 0 komentar
Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.


Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.

Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.

Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.

Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.

Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.

Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, "Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup."

Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.

Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.

"Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!"

"Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang."

"Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim."

Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.

Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja. Hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.

Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.

Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku.

Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.

Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.

Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka.

Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-- memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.

Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Tidak itu saja, aku juga getol membaca buku-buku keagamaan.

Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat.

Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.

Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.

Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa, Bu?"

"Apa itu?" tanyaku tak mengerti.
"Ini barang berbahaya, Bu," sahutnya khawatir, "Ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!"
"Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.

Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.

Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-- idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.

Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!

Jangan Pergi, Teta! By. Aan Almaidah Anwar

Diposting oleh eva yuanita di 5/01/2011 06:23:00 PM 0 komentar
Kertas absensi bergulir lambat. Tinggal sederet lagi. Yoga menanti tak sabar. Diperhatikannya satu per satu, hingga matanya sampai ke seseorang yang tengah duduk di sebelahnya. Sejak kuliah dimulai sampai detik ini, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan dari orang di sebelahnya. Dengan mata yang lurus ke arah dosen, ia tampak begitu tenang tanpa ekspresi - dan tidak menunjukkan setitik semangat dalam mengikuti kuliah. Hal ini tidak hanya sekali-dua diperhatikan Yoga, namun sejak kuliah tahun ajaran dimulai! Tanpa disadari, Yoga merasa sangat tertarik pada teman kuliahnya yang misterius ini.

Absensi bergerak dari sisi kanannya. Tanpa melirik pun Yoga sadar, bahwa kini gilirannya. Namun dengan kemampuan akting yang luar biasa, matanya tetap tertuju ke depan, seolah begitu antusias mengikuti pembicaraan dosen. Dan, tanpa menoleh, Yoga mengerti betapa gelisahnya gadis di sebelah melihat kertas absensi yang dia sodorkan hanya melambai di udara.
"Kamu...." Hanya itu yang terucap.
"Oh!" Yoga pura-pura tersentak. Bergegas disambarnya kertas tersebut. Tanpa perlu meneliti lebih lanjut, sebaris nama di atas baris kosong baginya terekam jelas, Teta R. Hanya itu.
Selesai membubuhkan tanda tangan, dialihkannya kertas absensi itu ke samping kiri. Kemudian dia menoleh hati-hati.
"Namu kamu Teta, ya?"
Reaksi gadis itu terlihat begitu aneh. Wajahnya memerah, pias, dan gelisah! mata yang tadinya tidak beralih dari depan ruangan, kini menatap Yoga pelan-pelan, lantas berpaling kikuk. Terasa ada sesuatu menyelubungi wajahnya.
"Nama saya Yogaswara." Yoga menngulurkan tangan dengan ramah. Perasaannya kian mendesak untuk mengenal gadis itu lebih mendalam. Dia semakin tidak mampu membendung keheranan kala tangan mereka berpadu. Tangan gadis itu terasa dingin.
Yoga mengangkat wajahnya, cemas. "Kamu sakit, ya? Kalau sakit, saya antar pulang."
"Tidak," suaranya nyaris tenggelam. Gadis itu menarik tangannya cepat-cepat, lantas memalingkan wajahnya kembali pada posisi semula.
Ketika mata kuliah kedua dimulai, Yoga menemukan bangku di sebelahnya telah tak berpenghuni.

***

Beberapa hari setelah itu, seraut wajah gugup yang pernah dikenalnya, nyaris menghilang. Yoga sendiri hampir lupa bahwa ia pernah berkenalan dengan Teta R - gadis yang menurut informasi lebih suka mengucilkan diri dan terkucil. Kesibukannya sebagai ketua kelompok, praktis menambah beban dan tanggung jawabnya di luar jam kuliah. Di lain pihak, cucu Hawa kenalannya kian hari kian tak terhitung. Siapa yang tidak kenal Yogaswara di kelompok mereka?
Yoga menepi sesaat, memberi jalan pada anak Sosek yang akan keluar dari ruangan yang mereka tempati sesudahnya. Kalau tidak ada yang mengalah demikian, pasti tubuh mereka saling terhimpit satu sama lain di mulut pintu.
Sudah banyak kursi yang terisi. Beberapa anak yang baru masuk saling berebut kursi di tempat-tempat strategis. Ada juga yang berteriak memesan tempat kepada temannya yang telah duduk terlebih dahulu. Dengan tenang, Yoga menyusuri bagian pinggir ruangan, di sisi tembok. Dan tanpa ragu mengempaskan dirinya di sebuah kursi, agak menyudut.
Tiga menit berlalu, dosen belum juga masuk ruangan. Yoga masih sibuk mengedarkan pandang ke sekitar. sebelum terpaku ke arah pintu masuk. Seorang gadis melangkah masuk sedikit tergesa, lantas meneliti barisan bangku dengan wajah tertunduk. Rambut ikalnya bergerak manja saat dia menuju kursi kosong di sudut, tepat di depan tempat duduk Yoga!
Yoga menatap dari belakang. Celana panjang putih yang membalut kakinya tampak serasi dengan kaus grandslam putih di bagian atas. Bukan main! Agaknya dia mulai mengerti bahwa Teta bukan berasal dari kelas menengah. Buktinya....
Namun mengapa sikapnya tidak membuktikan hal yang sama?
Tepat di saat kuliah berakhir, Yoga mengambil inisiatif nekad. Tiba-tiba saja perasaan itu muncul kembali. Dia ingin mengenal siapa Teta sebenarnya. Dan keputusan itu segera dilakukannya ketika mereka keluar ruangan berdesakan. Yoga menyelinap gesit, memburu warna putih-putih di depannya.
"Yog!" Isa menghadangnya di depan pintu keluar. "Bagaimana informasi tentang vokal grup...?"
"Nanti saja," sela Yoga tergesa. "Lima menit lagi aku kembali, ada urusan penting!" Lantas langkahnya pun seolah melayang.
Yoga terpaku di ujung jalan kecil. Hanya ada tiga rumah di sisi jalan tersebut; dan jelas dilihatnya Teta menghilang di balik pagar tinggi sebuah rumah megah. Bukan main! Keningnya berkerut sedikit. Dia tidak salah menebak, Teta pasti anak orang kaya. Masih terekam dua mobil keluaran terbaru di parkir di halaman.
Perlahan Yoga berbalik. Dari belakang punggungnya masih tersengar ramai salak anjing bersahutan.

***

Denting piano mengalun sayup dari dalam. Tidak berapa lama terdengar jeritan manja sebelum alunan nada kian mengeras, lantas berhenti mendadak. Yoga masih berdiri di depan pagar rumah setinggi dagu. Dia mulai jenuh menunggu seperti ini, padahal tadi telah berulang kali dia memperkenalkan diri sebagai teman sekelompok Teta Rosanti, pada gadis kedua yang empunya rumah. Namun, bukannya sambutan ramah yang diterimanya, malah ditegaskan untuk menunggu di luar saja. Di luar halaman, pula!
Ditekannya rasa kesal. Yoga cukup maklum menerima perbuatan semacam itu. Bukankah di abad nuklir ini hanya kecurigaan yang patut disodorkan untuk menyambut kehadiran orang-orang asing?
"Hai!" Mata berbinar itu telah berdiri di balik jeruji pagar. Terdengar bunyi kunci pagar dibuka. Yoga nyaris ternganga. Teta? Walaupun hanya kata 'hai' yang terucap, alangkah hangatnya nada itu dilontarkan! Apakah dia tidak salah dengar?
"Masuk Yog, lama menunggu ya? Sori. Habis, pembantuku tidak kenal kamu, sih. Tumben."
Teta membuka pagar setengah lebar. Yoga menatapnya sejenak sebelum melepas senyum yang diliputi keheranan. Dia tidak habis pikir atas sambutan yang kini diterimanya.
"Ada apa, Yog?" Teta menentang mata Yoga dengan tajam ketika mereka telah duduk berhadapan di kursi rotan di samping halaman. Raut wajahnya sangat tenang, tidak gugup, tidak pias, dan tidak seperti yang pernah dilihat Yoga beberapa waktu lalu di ruang kuliah. Sebelum sempat menjawab, masih didengar Yoga satu pertanyaan yang terasa menyudutkan halus. "Rasanya kita belum pernah tukaran alamat, kan?"
Yoga terpaksa melempar senyum kecut. Tadinya dia ingin mengajak Teta bercakap-cakap dan mengorek keterangan mengapa selama ini gadis itu selalu mengasingkan diri. Tetapi yang dihadapinya sama sekali di luar dugaan! Kali ini Teta tampil di hadapannya dengan kepercayaan diri penuh! Lantas, apa yang harus dijawab?
Perlahan dia mengumpulkan kekuatan.
"Saya... ingin mengajakmu bergabung dalam vokal grup kelompok. Teta kan pintar main...." Yoga menggerakkan sesepuluh jemari tangannya di udara.
"Dari mana Yoga tahu saya bisa main piano?"
"Lho, tadi saya dengar...."
"Berarti itu bukan alasan utama!" sanggah Teta cepat. Lagi-lagi bibirnya mengukir senyum datar. Yoga terhenyak sesaat. Cerdik juga gadis ini! Dia tahu bahwa itu hanyalah alasan yang dibuat-buat. Yoga berpikir sejenak, sebelum memutuskan untuk berkata sejujurnya.
"Saya... saya hanya ingin mengenalmu, Teta. Saya ingin berteman denganmu."
"Yog, jadi kamu prihatin melihat nasib saya di kampus yang tanpa teman itu? Saya tidak butuh perhatian kalau demikian. Walaupun saya menjadi temanmu, tetapi apa yang kamu dapatkan dari saya? Tidak akan ada, Yog!"
Garis wajah di hadapannya berubah mengeras selesai mengucapkan kalimat terakhir. Yoga menelan ludah sesaat. Padahal gadis ini mempunyai banyak kelebihan dibanding yang lain, bisik batinnya seraya mengamati wajah di depannya.
"Mungkin bagimu demikian, tetapi tidak untuk saya. Bagi saya, Teta, setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Jadi, makna persahabatan tidak lain untuk saling mengisi dan memberi." Perlahan Yoga bangkit. "Maaf, saya mengganggu waktumu. Barangkali sekarang kamu belum percaya atas itikad saya ini."
Teta hanya membisu. Dia turut beranjak mengantarkan Yoga hingga ke batas pagar. Ketika menutup pintu pagar, Yoga masih sempat membalik. Dilihatnya tatapan Teta mengarah padanya, tanpa makna.

***

Yoga menebar senyum samar ke sekeliling, di mana wajah-wajah tegang telah menantinya sejak lama. Hari ini hasil ujian. Matematika dibagikan. Sebagai ketua kelompok, dia diserahi tanggung jawab dalam membagikan kertas-kertas ujian teman sekelompok oleh dosen yang bersangkutan. Tiba-tiba matanya terpaku pada seseorang di tengah ruangan. Teta. Bibir gadis itu terlihat pucat, tergigit. Wajahnya kelabu. Yoga menatap khawatir. Sakitkah dia? Sebelum sempat berpikir lama, suara-suara lain bergemuruh di ruangan.
"Cepat sedikit, Yog! Jangan membuat orang panik!"
"Alaaa, Yog! Apa sih yang kamu tunggu?"
"Yoga! Cepat bagikan, dong!"
"Tenang, tenang." Yoga menepis semua pertanyaan di hatinya. Perlahan diejannya nama-nama yang tercantum di pojok kanan hasil ujian. Nama orang yang dipanggil melangkah maju. Ada yang tersenyum setelah melihat hasil ujiannya, ada yang menutup muka sesaat lantas berlalu dengan pasrah, ada juga yang acuh tak acuh.
"Teta... Rosanti...," eja Yoga perlahan. Namun, detik itu pula, ia terkesima melihat kertas ujian di tangannya. Di saat keningnya berkerut tak percaya, sebuah hentakan kasar telah menyambar kertas ujian di tangannya. Sepasang mata berbinar marah menerjang matanya, sebelum pergi dengan langkah tak terkontrol.
Dari sudut mata, Yoga melihat gerak-gerik Teta setelah mengambil tempat kembali. Wajahnya berganti warna. Kelabu, merah, pucat, tetapi tidak terlihat tanda-tanda akan menangis. Gadis itu menunduk seraya menggigit bibir seperti tadi. Yoga membacakan nama-nama selanjutnya agak tergesa. Tidak dipedulikannya beberapa temannya yang menggerutu di kiri-kanannya setelah melihat hasil ujian mereka.
"Protes ke dosen saja!" saran Yoga seraya meloncati tangga tribun kelas. Matanya menyelidik gelisah. Teman-teman yang tengah berdiri dari kursi masing-masing menuju pintu keluar menghalangi pandangannya.
Di halaman kampus, Yoga menatap jalan kecil tempat Teta biasa lewat. Meskipun berlari Teta melewati jalan itu tadi, pasti masih bisa terkejar olehnya. Dan pasti dia tidak melewati tempat ini, batin Yoga. Sesaat dia membalik, lantas melangkah menuju taman kampus. Sesampai di sana berulang kali dia mengedarkan pandang, namun bayang Teta tak terekam.
Perlahan Yoga melangkah. Teta benar-benar menghilang. Dalam waktu sekian detik, gadis itu lolos dari matanya. Apakah dia malu? Tetapi, mengapa dia harus marah?
Nyaris putus asa Yoga memutuskan untuk kembali. Tidak ada gunanya menunggu Teta berlama-lama, pikirnya. Mudah-mudahan saja mereka masih bisa bertemu jika kuliah nanti. Dan mudah-mudahan saja Teta masih bersedia diajak bicara.
Mendadak langkah Yoga terhenti. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dekat pintu gerbang kampus, di sisi pohon tua berumur ratusan tahun, seseorang tengah duduk diam. Teta!
"Kamu...," hanya itu yang terucap. Yoga mendekat dan jongkok tepat di depan gadis itu.
Teta buru-buru memalingkan wajah. Dari samping masih terlihat tanda air mengering di pipinya.
"Kenapa menangis, Teta? Ini baru ujian pertama. Masih ada waktu untuk memperbaikinya."
"Kamu pasti akan menghina saya!" tiba-tiba gadis itu meledak. Bibirnya bergetar hebat, sehebat dia menggigitnya. "Semua orang akan menghina saya! Karena saya tidak seperti Teta yang dulu, yang bisa jadi juara! Padahal mereka mengharapkan saya terlalu banyak. Saya tidak bisa! Saya tidak bisa!" Bahunya berguncang keras. Aliran kristal di pipinya kian menderas.
Yoga menatap kaku. Dia semakin tidak mengerti. Perasaan simpati mendorong tangannya terulur ke depan, namun segera ditarik kembali. Yoga juga tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka, walaupun sungguh di dasar hati dia sangat ingin menghibur gadis itu. Tetapi, bagaimana caranya?
"Saya tidak menghina kamu," ujarnya pelan. "Kamu percaya masih banyak teman kita yang mendapatkan nilai rendah? Bukan kamu saja! Jangan down begitu, Teta. Pergunakan waktu yang ada untuk membangkitkan semangat belajarmu."
"Tetapi saya tidak bisa," desis Teta menggigil. "Saya tidak bisa, Yog! Saya sudah berusaha, sudah belajar. Nyatanya, hasil saya...." Kepalanya terkulai kembali. Hening sejenak. "Saya tidak pernah bisa membahagiakan mereka," sambungnya lirih.
Mereka? Yoga berpikir sejenak. Terdengar bunyi gemerisik di sebelah. Teta telah bangkit. Yoga turut beranjak. Ditatapnya Teta dalam-dalam.
"Saya tidak mengerti, Teta," akunya jujur. "Seandainya kamu bisa menjelaskan sedikit, mengapa kamu bersikeras tidak bisa? Padahal untuk hidup diperlukan tekad dan usaha."
Kali ini, entah untuk keberapa kali, mata mereka beradu. Teta menggeleng berkali-kali. Di bibirnya terpampang senyum giris. Di balik balur matanya yang sembab, tersimpan berjuta teka-teki. Dan Yoga hanya mampu menghela napas panjang saat Teta meninggalkannya perlahan-lahan.
Di hatinya tersembul tanda tanya besar. Teta, siapakah kamu sebenarnya?

***

Yoga menarik napas kesal ketika melihat darah yang mengucur semakin deras. Mengapa Teta harus berlari saat melihatnya? Bukankah dia bukan hantu? Dan mengapa di saat menyeberang jalan dia lupa melihat sekeliling? Akibatnya hantaman sepeda motor tadi membuatnya terpelanting, nyeri, dan darah pun keluar. Yoga mencoba bangkit. Ufh, sakit!
"Yog," nada cemas terkandung di dalamnya, "Kamu sakit?"
Pertanyaan bodoh! Yoga memutar tubuhnya keras-keras.
"Kamu... marah?" tanya gadis itu, lemah.
"Kamu pikir saya ini hantu, ya?! Atau, kamu pikir saya naksir kamu, sehingga mau-maunya mengejar kamu sampai ke rumah?! Jangan sombong, Teta! Jangan mengira karena berpuluh penghargaan yang kamu terima sebagai pianis muda terhebat di kota ini, lantas semua cowok harus menaruh simpati padamu!"
"Yoga!"
"Dan jangan mengira dengan satu kehebatan kamu berhasil mengarungi kehidupan? Kamu hebat, Teta. Tapi juga sombong, dan lemah! Mengapa kamu sering bolos? Mengapa takut melihat saya? Karena takut kekurangan-kekuranganmu pada bidang akademis diketahui orang? Kamu sama sekali tidak fair!"
Sepasang mata di depannya seketika berubah redup. Yoga sama sekali tidak mengira buah dari kalimatnya mengakibatkan Teta bergetar hebat. Dengan bahu berguncang keras, gadis itu berbalik, berlari kencang menyusuri jalan kecil menuju rumahnya. Yoga tertunduk, berjalan terpincang-pincang menuju klinik kampus.
Dari Mei yang kos di rumah Teta, anak kelompok lain, Yoga berhasil menjaring informasi penting. Dan salah satu yang dianggap Yoga penting adalah tentang kehebatan bakat Teta menarikan jemarinya di atas tuts piano, serta keinginan kuatnya untuk melanjutkan sekolah musi di luar negeri.
"Mengapa Teta tidak pergi saja?"
"Dilarang keluarga, karena mereka beranggapan kehidupan tanpa gelar itu sulit di zaman sekarang."
Yoga merenung. Terngiang kembali kata-kata Teta saat mengucapkan 'tidak bisa' disertai raut wajah pias ketika nilai ujuannya jatuh. Jadi, inikah?!
Sayang, ketika dia hendak menanyakan langsung, Teta malah menghindar. Dan ketika dia mencoba mengejar, hasilnya: luka dalam di kaki kanannya!

***

Yoga menghunjamkan mata ke pintu masuk. Untuk yang kesekian kali dia terpaksa menahan napas kecewa. Kecemasan merayap di dasar hatinya. hampir dua minggu berjalan, penantiannya tetap tidak membuahkan hasil! keinginannya utnuk menemui Teta langsung di rumah, berhasil ditahan sekuat tenaga - ketika Mei menyebarkan berita itu saat ditemuinya.
"Jangan diganggu deh, Yog. Kayaknya Teta banyak masalah. Yah, kalau tidak suka kuliah di sini, kenapa maksain diri, ya?"
Yoga masih mencoba menelusuri pintu masuk. Jangan-jangan Teta terlambat.... Namun, hingga dosen memasuki ruangan, raut pucat yang memiliki kekuatan tersembuyi di baliknya, tetap tak terlihat.
Embusan napasnya terdengar berat. Perasaan aneh itu menggigit kembali. Ah, seandainya Teta mengerti. Mengapa Teta harus merasa sendiri? Mengapa tidak mempercayai persahabatan yang ditawarkan orang terhadapnya, termasuk dari dia sendiri, dari Yogaswara?

***

Yoga meniti jalan berkerikil itu dengan hati-hati. Langkahnya seolah tak bersemangat.
"Yoga!"
Dadanya bagaikan tersengat. Diputarnya tubuh seketika. Tetapi bukan Teta yang datang. Harapannya seolah terempas. Dia pikir, Teta....
"Ada apa, Mei?"
"Ada surat dari Teta," Mei memandangnya sekilas.
"Sudah boleh ke rumahnya?" Yoga memandang penuh harap. Mei terlihat ragu. Diangkatnya wajah.
"Baca saja sendiri. Yuk, aku duluan! Ada kuliah Biologi!" sahutnya tergesa, sebelum bergegas menjauh. Yoga mengernitkan dahi. Pandangannya jatuh pada sepucuk surat beramplop putih di tangannya. Sekali lagi matanya menatap curiga ke arah Mei yang menirus dari pandangannya.

Terima kasih, Yoga. Kamulah orang pertama yang menyadarkan saya, bahwa seseorang harus mengambil keputusan berat dalam memilih jalan hidupnya, untuk lebih mengenal dirinya. Tadinya saya kira dengan berkata 'ya' dan mengalah, saya mampu membahagiakan keluarga yang sangat menyayangi saya.
Dulu saya selalu merasa tidak akan sanggup membalas kasih sayang keluarga yang terlalu berlimpah. Di samping itu, saya berpendapat untuk apa membantah jika hanya akan membuat kelurga - mereka, orang-orang tercinta itu - kecewa dan sakit hati. Bukankah leukemia yang akan menggiring saya semakin dekat pada gerbang kehidupan? Maka, saya pun kuliah di sini, walaupun tiap kuliah pikiran saya melayang dan terbang.
Lantas, saya merasa tersudutkan sendiri, Yoga. Saya merasa beban itu diperuntukkan hanya untuk saya. Bayang kegagalan selalu menghantui saya. Di lain pihak, sakit yang bertambah, menjadikan rasa aman dalam hati saya, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk tidak hadir di ruang kuliah.
Bila sekarang kamu bertanya mengapa saya pergi juga memperdalam sekolah musik dan meninggalkan kuliah; jawabnya, karena kehadiran kamu! Saya mengerti, seseorang tidak baik bersikap setengah-setengah di dalam menerjuni sesuatu. Tetapi saya berhasrat mengisi akhir hidup saya dengan sesuatu yang lebih berarti.
Doakan, jika kembali nanti, saya telah menjadi orang berhasil. Itu pun jika saya diperkenankan kembali oleh-Nya.
Sungguh, Yoga, saya tidak akan mampu melupakanmu.

Teta R

Yoga terdiam, lama. Mendadak saja kamar di rumah kosnya itu menjadi sempit, menyesakkan. Seandainya saja dia bisa mencegah kepergian Teta, dan menyarankan agar Teta memperdalam musik setelah dia selesai mencapai gelar....
Namun segalanya telah terlambat!
Teta pergi setelah menemukan wujud kepribadiannya sendiri dalam berkata 'tidak'. Yoga mengerti, amat sangat mengerti, hal itu dilakukan Teta karena gadis itu tidak bisa menunggu lebih lama.
Perasaan itu kembali bergulir di hatinya. Sakit, dan kecewa. Seandainya Teta sadar bahwa tujuannya mendekati Teta selain membantu menemukan keseimbangan, juga untuk membantunya dalam bidang akademis....
Sekarang, dia benar-benar merasa kehilangan. Mengapa harus pergi, Teta?

Sabtu, 30 April 2011

Ketika Cinta Membelah By. Yeni Kurniawi

Diposting oleh eva yuanita di 4/30/2011 12:29:00 AM 0 komentar
      Suami saya adalah seorang insinyur. Saya mencintai sifatnya yang alami, dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul ketika saya bersender di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, harus saya akui, saya mulai merasa lelah dengan semua itu.
      Alasan saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta. *** 
      Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan mahaberat saya kepadanya. Saya menginginkan perceraian!
      "Mengapa?" Dia bertanya dengan terkejut. "Ada orang ketiga?!"
      Saya menggeleng. "Saya lelah. Terlalu banyak alasan yang tak akan pernah kamu pahami," jawab saya.
      Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak ada putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin bertambah. Seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya?
      Dan akhirnya dia bertanya seolah dapat membaca alam pikiran saya. "Apa yang dapat saya lakukan untuk mengubah pikiranmu?"
      Seorang bijak pernah berkata, mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit. Mungkin itu benar. Saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan dan kesabaran diri bahwa saya bisa mengubah pribadinya menjadi seorang yang romantis seperti obsesi saya selama ini. Dan tidak ada cara lain untuk mengakhiri semuanya itu dengan perceraian!
      Di dalam kekecewaan dan putus asa, saya menatap dalam-dalam matanya dan melontarkan tanya. "Saya punya pertanyaan untukmu. Jika kamu dapat menemukan jawabannya yang ada di dalam hati saya, mungkin saya akan berubah pikiran. Seandainya, katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung, dan kita berdua tahu, jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"
      Dia berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."
      Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Dia seperti laki-laki yang tidak memiliki hati. Dia meninggalkan saya sendiri, tepekur dengan pertanyaan-pertanyaan saya yang serupa mistis. *** 
       Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-coretan tangannya, di bawah sebuah gelas kristal kosong, yang bertuliskan:
      "Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu. Tapi izinkan saya untuk menjelaskan alasannya." 
      Sebaris kalimat pertama tadi menghancurkan hati saya. Saya mencoba untuk kuat melanjutkan membacanya kembali....
      "Suatu ketika, saat kamu mengetik di komputer dan tanpa sengaja telah mengacaukan program di PC, dan akhirnya menangis di depan monitor karena semua data kamu hilang, maka saat itu pula saya akan datang membantu kamu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki program komputer itu, dan mendapatkan data kamu yang hilang tersebut."
      Saya menyimak dengan hati belah. 
      "Suatu ketika, saat kamu keluar dan lupa membawa kunci rumah, saat itu saya harus pulang dari kantor untuk sekedar mendobrak pintu rumah dengan cara menendangnya, supaya kamu bisa masuk dan tidak membiarkanmu menunggu saya pulang kantor berjam-jam di luar rumah."
      Kalimat ketiga tadi mulai menggugah saya dalam haru.
      "Suatu ketika, saat kamu jalan-jalan ke luar kota dan nyasar di tempat baru yang kamu kunjungi itu, maka saat itu saya begitu panik dan nyaris gila mencarimu. Saat menemukanmu, saya seperti menemukan sebuah permata yang tidak dapat saya gambarkan nilainya. Saya memelukmu, dan rasa-rasanya tidak ingin melepaskan kamu saat itu."
      Sepasang pelupuk mata saya memanas.
      "Suatu ketika, saat kamu selalu pegal-pegal setiap 'kedatangan tamu' pada setiap bulannya, maka saat itu pula atas inisiatif saya sendiri, saya akan memijat kakimu yang pegal meskipun saya sudah mengantuk dan bahkan tertidur."
       Bibir saya bergetar.
      "Suatu ketika, saat kamu sedang diam dan sendirian di rumah karena kita belum dikaruniai seorang anak, maka saya akan meriuhkan suasana 'keterasinganmu' dengan menjaring dan merangkai cerita supaya kamu tidak kesepian. Saya akan membanyol supaya kamu ceria di dalam senyum atau tawa lucu, meskipun saat itu saya masih lelah dan penat sehabis pulang kerja dari kantor." 
      Tubuh saya mulai menggemetar.
      "Suatu ketika, saat kamu asyik dan lama menatap monitor komputer, maka saat itu saya akan menegurmu untuk beristirahat, dan mengatakan kalau terlalu lama di depan layar monitor tidak baik untuk kesehatan matamu. Dan sejak saat itu pula, saya berikrar untuk harus menjaga kesehatan mata saya sehingga kelak kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu...."
      Kerongkongan saya memerih.
      "Sayang, saya yakin ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari cara saya mencintaimu. Tapi saya tidak akan mengambil bunga di tebing gunung itu, seperti yang kamu inginkan, kalau toh pada akhirnya bunga itu akan mati layu...."
      Airmata saya sudah menggumpal dan sedikit meruap di pinggir pelupuk mata.
      "Saya hanya ingin memberimu cinta, cinta yang tak akan pernah layu meski mungkin cinta itu tidak dapat kamu lihat sebagai sebuah keindahan. Keindahan seperti bunga. Keindahan seperti harum melati dan mawar. Tapi demikianlah saya yang apa adanya. Yang hanya memiliki niat sederhana untuk membahagiakan kamu dengan cara saya, cara yang mungkin bagi kamu tidak romantis. Ya, tidak romantis dan begitu menjenuhkan. Tapi saya yakin cinta saya ini akan abadi, dan tidak akan layu seperti keindahan bunga yang sekejap layu lalu mati."
      Airmata saya sudah menetes dan jatuh ke atas kertas tulisannya. Saya berusaha untuk menahan tangis, namun tidak bisa. Buncah sesal seperti menohok hati saya telak-telak. Saya memang tak pandai mengartikan cinta yang sejati. Cinta tulus yang telah diberikan suami saya dengan caranya sendiri.
      "Sayang, sekarang setelah selesai membaca jawaban saya, kamu berhak memilih dan menentukan jalan hidup kamu. Tak ada paksaan. Namun jika kamu dapat menerima cinta cara saya yang apa adanya, seperti yang telah saya persembahkan kepada kamu selama ini, tolong bukalah pintu rumah kita. Sekarang, saya sedang berdiri di sana dengan susu segar dan roti kesukaanmu...."
      Saya segera membuka pintu, dan melihat wajahnya yang dulu sangat saya cintai. Matanya tampak merah dan berkaca-kaca, berdiri dengan sikap tegar sembari memegang nampan berisi segelas susu segar dan beberapa roti iris dalam piring.
      Saya tidak kuat lagi, memeluknya dan merebahkan kepala saya di bahunya yang bidang sambil menangis. ©

Aku Ingin Menikah By. Yeni Kurniawi

Diposting oleh eva yuanita di 4/30/2011 12:15:00 AM 0 komentar



      "Aku ingin menikah, Sayangku!"
      Itu awal dari suratnya. Membuat jantungku berdegup kencang, dan menahan rasa dalam baur. Kukuatkan diriku untuk melanjutkan membaca surat itu, perlahan.
      "Aku ingin menikah, Sayangku! Bukan karena semata aku ingin menunaikan hal yang selama ini diserukan oleh agama bagi umatnya yang telah akil-balig, tetapi aku ingin juga menikmati keindahan dan kebahagiaan pernikahan itu sendiri."
      Aku menggeleng tanpa sadar.
     "Bagiku, pernikahan merupakan sebuah kemantapan batin. Bukanlah hal yang mudah memang untuk menjalani sebuah pernikahan, suatu ikatan sakral yang tak bisa dipermainkan selayaknya ketika berpacaran. Tetapi aku inginkan itu. Aku ingin menikmati susahnya menjadi seorang istri, mempunyai anak dan mengurus mereka. Aku merindukan semua hal itu, dan aku menganggapnya sebagai suatu ibadah karena ada cobaan dan tantangan yang harus aku lalui. Tidak mudah memang menjalani gasingan roda rumah tangga sementara aku juga tengah meniti karier."
      Lagi-lagi aku menggeleng tanpa sadar. Padahal wajah manis itu tidak sedang berada di hadapanku. Ia berada jauh, sangat jauh di suatu tempat.
      "Bukankah sudah sering kuceritakan dulu bahwa, aku ingin sekali menikah muda. Kau mau tahu alasannya? Karena aku merasa tertantang untuk melakukan hal itu. Boleh jadi semua itu obsesi. Tetapi menjalani hal berat tersebut, aku akan merasa bangga menjadi seorang istri sahih, sekaligus menyandang status ibu bagi anak-anakku. Kau tahu, betapa bahagianya dapat melihat perkembangan mereka dari kecil hingga dewasa. Dan ketika penatku buncah setelah seharian bekerja, aku akan dihibur oleh celoteh kecil dari anak-anakku. Anak-anak yang kulahirkan sendiri dari rahimku. Lagipula, aku juga merasa sudah melakukan perbuatan berpahala jika dapat mengurus suami yang aku cintai dengan dengan layak. Bukankah itu juga merupakan limpahan cinta yang aku aplikasikan dalam perbuatan? Setiap malam pula, aku akan berdandan secantik mungkin di hadapan suamiku agar aku dipeluknya, dan aku dan ia akan bercumbu sampai fajar."
      Aku bergidik. Takut membayangkan kenyataan itu.
      "Aku tahu, mungkin semua keinginanku ini terlalu picik. Aku pun sadar, ini tidak gampang untukmu. Sebab aku tahu, terlalu banyak hal yang mesti kau selami sebelum benar-benar dapat mewujudkan keinginanku tersebut, menikah! Tetapi keinginanku tersebut bukanlah hal yang muskil. Aku yakin Allah selalu akan memberi jalan bagi umatnya yang ingin berusaha. Allah akan membuka pintu rezeki kau dan aku. Meski aku sadar, saat ini kepapaan kita merupakan aral yang menghambat perwujudan keinginan aku itu. Maafkan aku jika ini terlalu muluk dan sedikit obsesif."
      Aku hela napas panjang. Pikiranku berkecamuk.
      "Kau tahu, Sayangku? Betapa aku ingin menikah. Betapa aku ingin mengamalkan ibadah nikah. Dengan menikah, berarti aku telah menyempurnakan ibadahku dan juga agamaku. Menikah bukanlah hal yang menakutkan, setidaknya menurut versiku, karena semua tak akan berbeda, kecuali hidup bersama dalam tanggung-jawab dan kewajiban masing-masing."
      Aku semakin kalut. Menggigil dalam diam.
      "Sayangku, dengan menikah bukan berarti kau akan terpasung bagai penjara. Tidak. Kau masih bisa beraktivitas seperti biasa. Yang berbeda hanyalah dimensi dan ruang yang berbeda pula. Kau masih akan memiliki waktu luang. Begitu pula sebaliknya dengan aku. Kita hanya perlu mengganti status kita yang lajang dengan suami bagi kau, dan istri bagi aku."
       Aku masih membaca suratnya dengan hati galau.
      "Aku bisa membayangkan betapa bahagianya dapat memiliki kesempatan untuk berumah tangga. Betapa semua ini adalah anugerah yang tidak setiap orang mendapatkannya. Kau dan aku akan saling menyayangi. Saling berbagi. Saling bercengkerama. Dan mungkin saling bertengkar untuk memadukan ketidaksepahaman. Namun aku yakin, kita adalah pengawal dan penjaga hati bagi diri kita masing-masing. Kau akan merawatku, demikian pula sebaliknya. Aku akan merawatmu. Kita akan sehidup-semati!"
      Aku terhenyak. Kalimat dalam suratnya menohok dadaku. Aku terlalu miskin untuk mewujudkan keagungan yang dikehendakinya!
      "Sayangku, keinginan ini sesungguhnya sudah kupendam sejak lama. Namun selama ini aku bagai pecundang yang tidak berani mengungkap. Hati dan batinku tidak akan pernah tenang selamanya. Bahwa hubungan yang telah kita bina selama ini akan tersuruk di dalam limbah dosa. Bahwa hubungan yang telah kita rajut selama ini akan terempas oleh kekerdilan kita yang salah mengarti. Sesungguhnya banyak godaan yang kelak akan menghancurkan hidup aku dan kau jika kita masih bertahan dan menepis 'pernikahan sakral' yang merupakan ibadah itu."
      Aku tepekur serupa patung.
      "Sayangku, tentulah kau akan mengartikan semuanya ini terlalu naif bagi kita yang belia. Mungkin. Apalagi aku masih saja merintis karierku yang baru seumur jagung. Demikian pula dengan kau yang baru ingin merdeka dan mandiri, terlepas dari tanggung jawab kedua orangtuamu yang sudah uzur. Tetapi aku yakin, semua itu dapat kita padukan seiring-sejalan jika kita memang bersikeras menjalaninya dengan sepenuh hati. Ya, sepenuh hati. Seperti cinta yang telah kita bina selama ini."
      Aku memejamkan mata. Mencoba untuk meredakan kecamuk di benakku.
      "Pikirmu, kita ini mungkin terlalu rapuh, dan berlagak tegar dengan membangun bahtera rumah tangga. Sayangku, pikirmu betapa bernyalinya aku yang berani mengarungi deru dan kerasnya ombak kehidupan dengan bahtera rumah tangga yang dinahkodai olehmu. Tetapi tidak, Sayangku. Tidak. Bukankah sudah kukatakan bahwa, Allah, Insya Allah, tidak akan membiarkan kita tenggelam jika bahtera rumah tangga kita selalu berada di jalan yang benar? Kalaupun ada gelombang, itu hanyalah riak-riak kecil dan merupakan cobaan hidup buat menempa kita menjadi tangguh dan kuat. Jadi, perkenankanlah aku mewujudkan impianku ini, Sayangku. Biarlah semuanya; karier dan cinta dalam rumah tangga kita seiring-sejalan dan berjalan secara alami."
      Aku mengusap wajah, mencoba menghalau resah dan gentar.
      "Menurutku, satu tahun sudah cukup untuk mengenal karakter kita masing-masing, dan aku rasa telah cukup mengenalmu. Apa pemahamanku ini salah?"
      Aku mengangguk tak sadar, lantas menggeleng cepat menggebah pengakuan nuraniku tadi.
      "Mungkin kau akan terbebani oleh permintaanku ini, Sayangku. Tetapi bukan maksudku membebanimu dengan masalah baru meski saat ini kau masih berkutat dengan masalahmu yang belum terpecahkan sendiri, yang saat ini tengah belajar untuk mandiri dan dewasa dan tak tergantung lagi oleh orangtuamu yang tergolong sederhana. Namun aku hanya tidak ingin kita terjerembab di dalam cinta yang telah tercemari nista. Terkutuklah kita nantinya, Sayangku. Dan aku lebih memilih hidup sengsara di dalam bahtera rumah tangga yang rapuh ketimbang harus menanggung beban dosa yang kita ciptakan di atas kenikmatan ragawi."
      Mataku mulai memanas. Tegarku diaduk haru. Aku teringat kedua orangtuaku yang sudah tua, serta dua orang adikku yang masih kecil-kecil, yang mesti aku tanggung. Berapa nyawa yang akan kuhidupi kelak?!
      "Tahajudlah, Sayangku. Keputusan ini memang mahaberat. Namun Allah pasti memberi petunjuk dan akan meringankan segala beban batin yang kau pikul."
      Aku seperti gila. Kuacak-acak rambutku sembari menggigit bibir. Airmataku sudah jatuh berlinang.
      "Maafkan aku, Sayangku. Aku merasa cinta terlalu sempurna untuk dikotori dengan nista. Bukan karena aku ini suci, namun justru karena itulah aku ingin mensucikan cinta kita. Menempatkannya di tempat teratas, dan jauh dari tagut."
      Aku menjerit tanpa sadar. Menelungkupkan kedua belah telapak tangan di wajahku yang sembap.
      "Sayangku, cinta yang suci akan menyempurnakan kita menjadi insan yang lebih baik. Menikah adalah ibadah. Dan bukannya mengikat kita serupa belenggu. Renungilah semua itu."
      Aku sesenggukan. Airmataku tak terbendung. Tiba-tiba menjadi lebih cengeng ketimbang bocah.
      "Biarlah kita belajar untuk menjadi dewasa di dalam pernikahan sakral ini, Sayangku. Biarlah waktu akan menempa dan membentuk kita menjadi manusia yang tegar di jalan yang telah kita pilih: Pernikahan! Jangan sangsi dengan keputusan mahaberat yang telah kita putuskan bersama: Pernikahan! Ketidakberdayaan dan kelemahan hanya belenggu yang senantiasa mengikat kita dalam mungkir, sehingga bila cuai kelak, maka kita akan dijerumuskan dalam sesat cinta terlarang. Aku tidak ingin kita jatuh dalam zinah. Dan penuhi permintaanku yang mungkin hanya kupinta seumur hidupku: Nikahi aku!"
      Aku seperti sudah tidak sanggup meneruskan membaca surat darinya.
      "Yakinlah dengan jalan yang kita pilih ini, Sayangku. Lalui semuanya dengan ikhlas."
      Aku menelentangkan diri di pembaringan, tubuhku lemas di antara tangisku yang sedu.
      "Atas nama cinta yang wangi, sudilah kau menikahiku, Sayangku. Seberat apapun keputusan itu. Karena aku yakin, jalan yang kau putuskan, suatu saat kelak, akan indah pada waktunya! Sebab Allah Maha Besar, dan akan membimbing serta menuntun kita dengan cahaya-Nya! Yakinlah!"
     Aku bangkit dari berbaring, masih berusaha meraih surat darinya yang kuempaskan sesaat tadi. Surat yang membuat aku seperti pengecut yang kehilangan nyawa. Surat darinya itu kulanjutkan sekilas dengan ekor mataku.
     "Aku tidak peduli, seberapa besar cintamu kepadaku. Mungkin juga kau tak pernah tahu, seberapa besar aku mencintaimu dan mengharap kau untuk menjadi pendampingku. Tetapi jika Allah menghendaki, maka kaulah yang akan dipilih-Nya untuk menjadi ayah dan imam untuk aku dan anak-anakku kelak."
      Aku menjatuhkan diriku di lantai, bersujud dan tafakur dalam tangis. Bimbing aku ya, Allah! Aku telah siap menghadapi semua 'cobaan' yang mungkin Engkau berikan kepadaku dalam bentuk pernikahan ini. ©


Seren Ade Toselli By. Ade Tenu

Diposting oleh eva yuanita di 4/30/2011 12:06:00 AM 0 komentar
Warna langit mulai berubah. Perlahan-lahan malam datang. Tapi tetap saja tak membuat hati Desta tergerak. Tetap diam memandang ke luar tanpa fokus yang jelas.
Tuhan, rintih gadis itu pilu. Untuk apa kulakukan semua ini?
Seharusnya semua sudah kusadari sejak awal, batin Desta nelangsa. Segalanya suatu saat akan berubah, jika kami bertemu lagi. Bahkan mungkin juga dengan impian-impiannya!
Tapi tak pernah kukira akan seperti ini, gumam gadis itu sedih. Bagaimana mungkin dia tak mengenaliku? Jangankan menyapa, sikapnya tadi itu seperti orang asing terhadapku!
Bagaimana ini....
Padahal, saat-saat seperti ini, sudah kutunggu ratusan hari. Suatu saat akan kujadikan impianku kenyataan. Berduet dengannya. Dengan lagu itu juga. Seperti dulu!
Seperti saat pertama dia datang. Mengenalkanku 'dunia' ini, batin gadis itu giris. Menggerakkan jari-jariku di atas tuts piano. Mengenalkanku berbagai lagu.
Desta mengeluh pelan.
Aku tak mengerti, dia bisa melupakan segalanya. Bahkan juga dengan lagu kenangan kami.***
"Apa yang kau pikirkan?"
Desta terdiam. Tanpa berpaling pun, dia tahu sosok yang berada di balik punggungnya. Ella.
"Dede?"
"Tahu dari siapa aku di sini?"
Ella tertawa.
"Di mana lagi sih, tempat strategis menurutmu?" Ella tersenyum. "Aku mengenalmu, De."
Desta tersenyum kecut. Gadis itu berpaling menatap sahabatnya, penuh permohonan.
Ella menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku tak peduli kau suka atau tidak, aku akan tetap di sini!"
"El, aku...."
"Dia lagi?"
"El?"
"Kenapa sih, kau mencari mati sendiri?" keluh Ella, sambil menatap sahabatnya giris. "Seharusnya kau tinggal di Malang, bersama keluargamu. Hingga tak perlu memikirkan si Pembuat Onar itu!" ujar gadis itu marah. "Tapi kau membandel. Ngotot rumah ini tak perlu dijual. Apa kau pikir, kau bisa hidup sendirian?"
Desta menghela napas berat. Tanpa mempedulikan kemarahan sahabatnya, dia berjalan. Menghampiri piano di sudut ruangan. Membuka jendelanya lebar-lebar, agar angin malam bisa masuk.
Hari-hari biasa, jika sedang main piano, dia tak pernah membiarkan jendela terbuka. Kecuali jika pemandangan di sekitarnya sedang bagus. Tapi kali ini dia ingin membukanya. Mungkin dengan begitu, sedikit demi sedikit, semua bebannya akan menghilang!
Desta duduk dan mulai menggerakkan jari-jarinya. Pertama-tama lagu kenangannya. 'Always In My Heart'-nya Lecuona. Semua kenangan berputar dalam otaknya. Dia menggigit bibir, berusaha menahan kristal bening dari matanya. Tapi semuanya tetap saja tak berguna. Matanya tak bisa diajak kompromi. Tetes demi tetes bergulir jatuh membasahi tangannya.
Desta mulai konsentrasi lagi, setelah sebelum tangannya menghapus kristal bening dari matanya. Lagu berikutnya sudah terdengar. Kali ini 'And I Love You So'-nya McLean. Terus disusul dengan 'Ingin Menangis'-nya Rachmaninoff, 'Estudiantira'-nya Leoncavallo, Puccini, Verdi, Offenbach, La Vie En Rose, dan lain-lain.
Desta terus seperti itu, tenggelam dalam permainannya, sampai kemudian sapaan Ella membuyarkan konsentrasinya. Dia berpaling. Dilihatnya Ella berdiri menyender pada tembok pembatas ruangan dengan mata sembab.
"Ella?"
Gadis itu tersenyum. Menyusut airmatanya.
"Aku terharu, De. Aku tak mengira kau bisa bermain sebagus itu."
Desta beranjak dari kursi pianonya. Berjalan menghampiri jendela, dan menutupnya.
"Lagu yang pertama tadi... itu salah satu kenanganku dengannya."
"De?" Ella menatap gadis itu cemas.
"Aku tak apa-apa." Desta tersenyum giris. "Akan kutunggu sampai dia melihat ke arahku lagi. Seperti dulu," desisnya pilu.***
 Tergesa-gesa Beni berlari menuju ruangan aula.
Ah. Semoga saja gadis itu belum datang, harap cowok itu bercampur kecemasan. Dia tak ingin sengaja menghindari, jika bukan karena terpaksa. Bagaimanapun ini semua juga menyiksanya. Tapi tak ada jalan lain. Kecelakaan itu sudah menghapuskan impiannya. Kehilangan orangtuanya dia pikir sudah cukup. Tapi ternyata Sang Pencipta berkehendak lain. Urat syaraf tangannya putus! Vonis dijatuhkan. Dia harus berhenti bermain piano! Berhenti bermimpi jadi seorang pianis, bahkan juga bermimpi untuk....
Kalau akhirnya dia berani kembali, itu karena dia mendengar, keluarga gadis itu pindah ke Malang sebulan yang lalu. Siapa nyana, jika kemudian ternyata gadis itu memilih tetap tinggal!
Beni mengeluh putus asa.
Bertemu gadis itu lagi, membuat pertahanannya hancur. Apalagi jika melihat gadis itu bermain, dengan lagu itu!***
"Ren, ini proposal...."
Suaranya terhenti tiba-tiba. Dia berdiri di depan pintu dengan wajah pucat. Dan itu bukan karena telunjuk Rendi di bibirnya, tapi itu karena lagu yang berkumandang memenuhi ruangan aula ini. Lagu yang amat sangat dikenalnya. 'Serenade'-nya Enrico Toselli.
Beni berpaling cepat, menyadari matanya menghangat tiba-tiba. Suruhan temannya itu untuk duduk, hanya dijawabnya dengan senyum.
Tuhan, rintihnya pelan. Seharusnya dia tahu, hal ini pasti terjadi. Tapi....
Tepukan tangan teman-temannya menyadarkannya. Tapi sudah terlambat untuk menghindar! Gadis itu terlanjur melihatnya.
"Masuk, Ben."
Beni mengangguk pelan. Meletakkan proposal di tangannya ke tangan Rendi. Dia tersenyum lega mendapati cowok itu menatapnya sambil mengangguk puas.
"Jadi Pak Sigit menyetujuinya?"
"Ya."
"Apa kubilang, Ren. Kalau Beni yang mengajukannya pasti beliau setuju." Arga tersenyum mengomentari.
"Kalian bisa aja deh." Beni tersenyum malu. "Nah, sekarang aku pulang dulu, ya."
"Nggak sama-sama aja, Ben?"
Beni menggeleng.
'Semakin lama aku di sini, membuatku semakin menderita....'
Dia tersenyum, dan cepat-cepat menghambur keluar, sebelum matanya pun ikut basah. Sejenak tadi, sempat ditangkapnya mata gadis itu menatapnya sedih.
Beni meraba hatinya. Perih!
Maaf, Ta! Bagaimanapun sulitnya, aku harus belajar melupakanmu. Di dekatmu, aku hanya akan menyesali tanganku.***
"Ayo dong, Ta. Punggungku sudah sakit, nih."
"Iya. Etta tahu. Sebentar lagi, Beng."
Cowok itu merintih menahan sakit. Dia memijit-mijit punggungnya, setelah kaki gadis itu berlalu dari sana.
"Ayo, Beng... ajarin Etta lagi."
Beni menurut. Tangan-tangan mungil gadis itu dibimbingnya. Pelan-pelan, dituntunnya untuk menekan tuts piano. Dan mengajarinya bermacam-macam lagu.
"Etta, lagu 'Always in My Heart' ini kesukaanku. Jadi kamu harus mempelajarinya baik-baik, ya?"
Desta mengangguk.
"Nanti, jika kita sudah mahir main piano, kita bikin konser berdua ya, Beng? Dengan lagu itu. Tapi Etta juga ingin memainkan 'Serenade'-nya Toselli. Seperti lagu di kotak musik yang Ibeng kasih ke Etta. Setuju?!" Etta mengulurkan kelingkingnya.
Beni tersenyum. Sambil mengangguk, jari kelingkingnya menyambut uluran jari gadis itu.
"Kalau Ibeng pindah bagaimana?"
Desta terkejut. Dia menatap dengan mimik tak percaya.
"Etta, kok bengong, sih."
"Memangnya mau pindah?"
Beni mengangguk.
"Kata Papa." Cowok itu menjelaskan. "Tapi Ibeng nggak tahu kapan perginya."
Gadis itu termenung, dan kemudian tersenyum.
"Kalau begitu, nanti Ibeng kembali aja ke sini. Trus, kita bikin konser. Mau, kan?"***
Desta duduk diam di kursi belajarnya. Memperhatikan music-box berbentuk paviliun musim panas dengan nama 'Cotillion'. Dinding-dindingnya dari kaca, dan di tengah ruangannya terdapat sepasang kekasih yang tengah melantai. Judul lagunya 'Over The Waves'. Salah satu dari dua kotak musik pemberian Beni.
Gadis itu menyapu ke samping 'Cotillion'. Tangannya mengangkat music-box itu dengan lembut, dan memutarnya. Serenade Toselli mulai terdengar, bersamaan dengan bergeraknya tikus-tikus kecil di dalamnya, yang mengitari lampu-lampu.
Bibirnya bergerak, mengikuti irama lagu itu.
"All too soon, your love was gone... too soon...."
Beng... bagaimana mungkin aku melupakanmu? Barang pemberianmu saja masih kurawat dengan baik. Kemarin kau pasti mendengarnya, kan?
Aku masih terus berharap, Beng. Sampai kapan pun, akan kutunggu. Aku tak akan pernah menyesal, karena harus menunggumu.
Deritan pintu terdengar. Desta memicingkan mata melihat siapa yang datang.
"Bad news?" Desta bertanya tak semangat.
Gadis itu menjawab dengan tersenyum. Tangannya melambai-lambaikan sehelai kertas.
"Apa itu?"
Gadis itu tak menjawab. Dia malah meletakkan kertas itu di depan sahabatnya.
"Kita harus merayakannya."
Desta menggeleng lemah. Dengan tangan kiri menggenggam karcis pertunjukannya, dia berdesis pilu. "Sudah tak berguna lagi."
Ella melotot marah. Dia merebut karcis itu dari tangan Desta.
"Jangan katakan kau membatalkannya! Aku berjanji tak akan pernah memaafkanmu, jika kau melakukannya!"
"Ella?"
"Kita berdua sudah susah payah memohon, kan? Mereka juga! Tolong jangan kecewakan aku, deh," pinta Ella.
"Itu impian kamu, El."
Ella menatap Desta gemas. Ya, Tuhan... mau sampai kapan gadis ini menunggunya?
"Tapi dia sudah tak mung...." Ella mendekap mulutnya. Memandang sahabatnya itu serba salah. Bagaimana mengatakan padamu, De. Bagaimana....
"Apa yang baru saja kau ucapkan?!"
Ella tersentak.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku, El?!"
Ella mengibaskan tangannya putus asa. "Sudahlah! Aku tak peduli lagi kau menerimanya atau tidak!" Gadis itu memuatar tubuhnya. "Aku pulang."
"El...." panggilnya setengah berteriak. Dia menghela napas, menyadari gadis itu sudah berlalu.***
Entah sudah berapa lama dia seperti ini. Duduk diam di depan piano dengan tangan ditelungkupkan. Perlahan dia membuat gerakan. Duduk dengan posisi tegak, dan jari-jari yang mulai menekan-nekan tuts piano. Kemudian tanpa sadar, dia akhirnya sudah bermain.
Kemarin dia sudah menyetujuinya. Karcis pertunjukannya pun sudah mulai disebarkan. Dia hanya bisa berharap, konsernya minggu depan akan berjalan sukses. Walau tanpa cowok itu di sampingnya!
Dia melirik ke atas piano. Di sana ada empat karcis, yang sengaja dimintanya. Tiga karcis, untuk keluarganya di Malang, baru akan dikirimnya esok hari. Sedang satunya lagi, Desta menggeleng sedih. Aku tak tahu bagaimana caranya, memberikan karcis ini padanya. Aku tak sanggup berhadapan dengannya. Takut dia akan menolaknya, gumam gadis itu giris.
'Simponi No. 21'-nya Mozart mengalun lembut. Kemudian karya Mozart yang lainnya, 'Mayor Sonata' dan 'Serena di Bulan April'. Lalu 'Piano Sonata No. 24'-nya Bethoven, 'Maiden's Prayer'-nya Badarzeswka, 'Noctume-Opus 9 No. 2' dan 'Etude-op 10 No. 3'-nya Chopin, yang temanya diambil dari instrumen Etude.
Desta mengeluh pelan.
Aku ingin mempersembahkan semuanya untukmu, Beng. Untuk kenangan masa kecil kita. Hanya untukmu! gumamnya pahit di hati.
Desta bangkit dari kursinya, dan berjalan menuju kamar. Mengambil kotak musik berbentuk cerek, dengan tikus-tikus kecilnya, dan meletakkannya di atas piano.
"All too soon, your love was gone... too soon...."
Desta berpaling. Dilihatnya seseorang berdiri di depan pintu, memperhatikannya, sambil mengikuti irama musik. Dia tersentak kaget. Ibeng?
"Hai!" Tangannya melambai. Disusul dengan langkah kaki cowok itu, memasuki rumah.
"Ibeng?"
"Kau semakin mahir. Aku senang."
"Ibeng, kau...." Desta kehilangan kata. Menatap sosok cowok itu, dengan pandangan nanar.
Tuhan, terima kasih, karena telah mendengar doaku. Menghadirkan dia kembali, di depanku.
Beni tertawa.
"Kenapa? Sudah lupa padaku?"
"Apa bukannya kau yang melupakan aku?"
Cowok itu tersenyum. Merengkuh tubuh mungil gadis itu, lembut.
"Maaf."
"Padahal kau tahu aku menunggumu."
"Maaf." Beni mengulurkan tangan. Mengusap airmata yang mengalir di pipi gadis itu. "Aku yang salah. Apalagi jika melihatmu bermain."
"Itu sebabnya kau selalu menghindariku?"
"Ya."
"Mengapa tak mengatakan padaku, setelah kau kembali?!" tuntutnya. "Mengapa membiarkan aku manarik kesimpulan sendiri?"
"Yang mana yang harus kujawab?"
"Semuanya!"***
Beni menghela napas berat. Melirik Desta dengan pandangan sedih, saat dilihatnya gadis itu terus menunduk.
"Etta?"
Desta mendongak. Menghapus kristal bening, yang mengalir deras dari matanya.
"Aku benci kau meragukanku!"
"Etta?"
"Aku tidak seperti itu, Beng." Matanya menatap tak suka. "Aku tak peduli kau seperti apa. Aku hanya ingin kau tahu... kau sangat berarti bagiku."
Beni tersenyum giris.
Aku tahu, Etta. Kau pun sangat berarti bagiku. Itu sebabnya, aku tak ingin merusak impianmu, gumam cowok itu sedih.
"Beng, terima kasih."
"Untuk apa?"
Desta tersenyum. Mengambil karcis di atas piano, dan memberikannya untuk cowok itu.
"Aku tahu ini semua usahamu. Proposal itu... aku tak percaya kau melakukannya untukku. Bolak-balik memohon demi aku. Jangan menyangkal!" sahutnya cepat, saat dilihatnya cowok itu membuka mulut, seperti ingin mengucapkan sesuatu. "Aku senang kau kembali, Beng."
"Etta."
"Apa aku masih boleh berharap?"
Beni menggeleng lemah.
"Aku tak tahu, Etta," desis cowok itu pilu. Dia menelan ludah pahit. "Mungkin suatu hari nanti, aku bisa menjawabnya!"
"Sudahlah!" Desta mengibaskan tangannya. "Aku mengerti."
"Etta, bukan maksudku me...."
Desta tersenyum. Berusaha menyembunyikan luka di matanya.
"Aku mengerti! Sebelum kau datang pun, sudah kupaksa hatiku mengerti, Beng. Bahkan juga tak memaksamu untuk datang. Terserah kamu!"
"Aku akan datang. Tepat waktu!"
"Beng?"
Beni tersenyum. Mengacak-acak rambut gadis itu dengan sayang. Dia mengeluh pelan. Ini yang terakhir aku melakukannya, Etta.
"Ternyata dugaanku tak salah," ujar cowok itu. "Tangan-tanganmu memang tercipta, untuk jadi seorang pianis yang handal."
"Itu karenamu."
"Bukan!" Beni menggeleng lemah. "Itu karena usahamu, Etta. Jadi sebelum aku pergi, buatlah aku terpesona oleh permainanmu."
"Aku berjanji!"
Beni tersenyum. Harus, Etta! Kalau tidak, aku tak akan bisa pergi dengan tenang.***
Gedung Pertunjukan
Pukul 19.30 WIB

'Always In My Heart' mengalun lembut, begitu kakinya memasuki gedung. Bukan karena tak dapat tempat duduk, jika kemudian dia memilih menyender pada tembok di samping pintu. Tapi dia hanya ingin cepat keluar, jika pertunjukan telah usai.
Beni memandang lurus ke depan. Dilihatnya gadis itu masih tenggelam dalam permainannya. Dia menghela napas berat. Akhirnya aku bisa tenang meninggalkanmu, Etta.
Musik yang kau mainkan begitu lembut dan mempesonaku. Aku bahagia mendengarnya, Etta, gumamnya. Ah. Itu pasti musik khayalan karya Chopin, 'Allegro Agitate', ujarnya begitu musik sudah berganti.
Bagus, Etta! Begitu terus. Mainkanlah Chopin dengan seluruh jiwamu. Perdengarkanlah ke seluruh dunia, batin cowok itu.
Aku benar, Etta. Jari-jarimu yang lincah di atas tuts piano, seakan-akan terlahir sebagai seorang pianis. Aku bangga!
Beni menyusut airmatanya, dan perlahan meninggalkan ruangan, saat didengarnya penonton meneriakkan encore berulang kali.
Kamu berhasil, Etta! Impianmu sudah terwujud. Dan sekaranglah waktuku untuk pergi. Dia tersenyum. Aku bisa mendengar Serenade Toselli-mu, Etta!
Beni semakin jauh meninggalkan gedung pertunjukan. Dia menengok sekali lagi, dan berucap lirih:
"Selamat tinggal, Etta!" ©
Keterangan:
Encore: Permintaan ulang. Biasanya terdengar, bila permainan piano memukau penonton.

Kepak - Kepak Sayap Merpati By. Ade Tenu

Diposting oleh eva yuanita di 4/30/2011 12:04:00 AM 0 komentar
Senja diselimuti kabut tipis. Dan biasanya bisa ditebak, bagaimana suhu di Osaka pada saat-saat ini. Apalagi pada aki same seperti sekarang. Sudah dingin setiap harinya, masih ditambah lagi dengan kedinginan yang datang akibat aki same turun tiada hentinya sejak tadi.
Di kejauhan Amanda berlari kecil menghindari terpaan angin yang tiba-tiba datang menghantam tubuhnya. Sesekali dia sibuk merapatkan sweater yang dikenakannya.
Brrrr... Amanda menggigil kedinginan.
Cuaca hari ini, benar-benar tak bisa diajak kompromi, gerutunya pelan. Mungkin kalau tadi pagi diturutinya kata-kata Sam, untuk tidak keluar dalam cuaca seperti ini, dia tidak akan tersiksa sendiri, dengan kedinginan di sekujur tubuhnya. Dan jeleknya lagi, semuanya ini akan terus seperti ini dari hari ke hari sampai saat haru tiba.
Oaaah, Amanda menguap lebar-lebar.
Kalau begini, ingin rasanya cepat-cepat sampai di rumah dan kemudian duduk diam di depan perapian, untuk sekadar menghangatkan badan sambil menghirup segelas susu hangat. Hm, pasti sangat nikmat sekali. Amanda tersenyum membayangkan.
Dan sekarang ini, gadis itu rasanya boleh tersenyum senang, atau tepatnya bernapas lega, karena rumah berukuran sedang itu, sudah terlihat dari pandangannya.
"Amandaaa...."
Amanda mendongak. Menatap ke arah suara. Dilihatnya di depan pintu seseorang melambaikan tangannya setengah berteriak menyuruhnya cepat sampai.
Amanda balas melambai. Dia mempercepat langkahnya, dan cepat-cepat mengulas senyum ramah pada sosok di depannya.
"Menunggu, Sam?" sapa gadis itu, sambil mengibaskan sisa titik-titik airmata yang melekat pada sweater-nya. Sedangkan bibirnya berusaha tetap tersenyum di sela-sela kedinginan.
Tarikan di bibir Amanda perlahan mengendur, ketika wajahnya mendongak menatap mata setengah sipit milik cowok itu.
"Sam?"
Sam terdiam. Dia berpaling dan cepat melangkah masuk ke dalam rumah. Melihat itu, Amanda menghela napas. Ingin rasanya dia bertanya, 'Ada apa Sam?'. Tapi cepat ditahannya mulutnya agar tidak berbicara apa pun, dan mengikuti langkah Sam.
"Mengapa dalam cuaca seperti ini memaksakan diri keluar? Badanmu bisa sakit lagi nanti," tegur cowok itu marah sesampainya mereka di dalam.
Amanda tersenyum gelisah melihat gurat kecemasan di mata Sam. Dan tanpa sempat dicegah, rasa bersalah menjalar cepat di hatinya.
"Maaf, Sam."
"Tadi pagi sudah kubilang, kan?"
"Aku tidak apa-apa, kok," ujar gadis itu. "Jangan cemas, yah?"
"Anak bandel! Tidak apa-apa bagaimana?! Lihat sini!" Sam menarik tangan Amanda menuju cermin besar di ruang tengah. "Ayo. Coba kau lihat! Apa wajah seperti ini, yang tak apa-apa?!"
Gadis itu tersenyum kecut menatap dua wajah dalam cermin. Seorang gadis terpantul di sana dengan wajah yang pucat dan bibir yang membeku kedinginan. Di sampingnya, berdiri seorang cowok tampan yang atletis, tersenyum masam pada gadis itu.
"Sam?"
"Sudahlah!" Sam mengibaskan tangannya. "Lain kali, jangan kau paksakan pergi dalam cuaca begini."
Cowok itu mengingatkan. "Ah. Aku sampai lupa. Tadi sudah kuhidupkan perapian. Hangatkan badanmu, Nda."
Amanda tersenyum mengiyakan.
"Doku desu ka?" tanya Sam dari arah dapur.
Amanda terdiam. Matanya menerawang jauh. Kalau tegami-nya cepat sampai, berarti akan tiba di tangan Johan setengah bulan kemudian. Bahkan mungkin lebih!
Sumimasen, Joe, desis Amanda giris. Kore wa watashi no machigai desu. Walau bagaimanapun, semua sudah tak mungkin lagi untuk kita. Keputusan apa pun, terasa sulit buatku. Dan kalau akhirnya aku pergi, mungkin itu pilihan terbaik untuk kita, batin gadis itu pilu. Meski tanpa mengabarimu, Joe!
Mengenangmu setiap saat, sama saja membuka kembali kejadian berpuluh-puluh hari yang lalu, Joe. Dan itu berarti, menghadirkan luka yang aku sendiri tak tahu kapan sembuhnya!
Aku mencintaimu, Joe. Amat sangat mencintaimu! Dulu aku pernah berjanji. Hanya kau satu-satunya dalam hidupku. Tapi Joe, aku tak dapat lagi merengkuhmu. Tak bisa menyakiti hati Ilda dengan kebersamaan kita. Bagaimanapun, walau tak rela melepaskanmu, dia adik kembarku, Joe.
"Arigatoo, Sam."
"Ni ii kenko?"
Amanda mengangguk.
"Pantas tadi tak terdengar pertanyaanku. Rupanya kau melamun ya, Nda."
Amanda tersenyum kecut. "Maaf, Sam. Aku tadi ke yuubinkyoku. Kirim kabar ke rumah. Juga buat dia," sahutnya cepat, ketika ditangkapnya mata Sam mengerlingnya penuh arti.
"Setidaknya agar semua tak mencemaskanku, karena pergi tanpa pamit."
Amanda meletakkan gelasnya.
"Rasanya baru kemarin aku datang. Kini aku harus merepotkanmu lagi, Sam. Sekarang ini... ah, sudahlah!" Gadis itu mengibaskan tangannya. "Akiru, Sam?"
Sam menggeleng.
"Aku malah senang, kau masih ingat keluargamu di sini, Nda." Dia tertawa. Menepuk pundak Amanda. "Wajahmu menyeramkan lho, kalau sedang susah seperti itu."
Amanda menghela napas.
"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, Sam," ucap gadis itu sedih. Dia tersenyum giris. "Kalau saja bisa, aku tak pernah ingin kehilangan dia. Tak ingin memutuskan tali cinta kami begitu saja. Ah, Sam...," Amanda menggigit bibirnya. Berusaha menghalau kristal bening dari matanya. "Aku tak percaya, kami akan seperti ini. Membayangkannya pun tidak!"
"Kalau begitu kembalilah, Nda! Jangan kau lepaskan cinta yang sudah kalian bangun berdua."
Amanda menggeleng putus asa.
"Aku tidak bisa, Sam!"
"Apa dengan begini, kau tidak menyiksa dirimu sendiri?!" cetus cowok itu marah. "Pikirkanlah dirimu, Nda."
"Sam?"
"Apa sekarang kau menyesal?"
Menyesal?! Amanda tersenyum samar. Andai saja kau tahu, betapa menyesalnya aku. Tapi semua sudah tak mungkin lagi, kan? batin gadis itu nelangsa.
Kadang aku berpikir, apalagi nanti yang akan kuberikan pada Ilda, Sam! Padahal, semua yang terbaik dalam hidupku, dia juga yang merenggutnya!
Andai saja Ilda bukan adikku. Andai bukan Johan yang dia cintai. Mungkin aku tak perlu 'melarikan diri' sejauh ini untuk kebahagiaannya, Sam!***
 Johan terpaku menatap selembar surat dalam genggamannya. Awalnya dia gembira, ketika menemukan sepucuk surat dari gadis itu di meja belajarnya. Setelah lama tak ada berita, dan dia terus menantinya dengan harap cemas. Sudah sesak rasanya dia menahan kerinduannya untuk bertemu. Tapi apa yang ditulis gadis itu? Johan menggeleng tak mengerti.
Entah untuk memastikan apa. Tapi pagi ini, di atas pesawat Garuda, dia sudah membaca isinya berulang kali. Tetap saja tak ada yang berubah. Yang ditulis gadis itu tetap sama. Hanya tiga kalimat. 'Maafkan, aku Joe!'
Maaf untuk apa? Ah. Ingin rasanya saat ini dia 'terbang' menemui gadis itu. Mendekapnya dalam pelukannya. Mengurai rindu yang sudah lama tersimpan. Tapi sayangnya dia bukan pilotnya. Jadi yang dapat dilakukannya hanya diam menunggu. Padahal dia ingin secepatnya tiba di hadapan gadis itu.
Tadinya dia sempat ragu untuk menemui gadis tercintanya. Berpikir puluhan kali malah semakin menyiksa perasaannya. Tapi, setelah menerima telepon interlokal dari seorang cowok, yang mengaku bernama Sam, keraguannya pupus sudah.
Kemarin petang, dia pergi juga. Walau Mama dan Papanya menatapnya cemas. Bahkan juga Ilda, kembaran gadis itu. Ah, Tuhan, mengapa baru disadarinya kalau gadis itu juga mencintainya.
Kalau akhirnya dia nekat pergi, itu bukan karena Ilda. Tapi... itu semua karena kerinduannya sudah tak bisa dibendung lagi. Dia juga tahu, dia mungkin sangat nekat untuk datang. Bagaimana tidak, kalau dia sama sekali buta negara Matahari Terbit itu. Apalagi Osaka!
Johan menggeleng berulang kali. Dia ingin sekali pesawat Garuda ini, mendarat mendarat cepat di Narita. Rasanya dia sudah tidak sabar, untuk segera mengatakan pada gadis itu, bahwa dia sangat mencintainya.
"Excuse me."
Johan tersentak. Seorang gadis cantik bermata sipit, di sebelahnya, membuyarkan lamunannya.
"What can I do for you?"
Gadis itu tersenum ramah. Tangannya menunjuk tempat yang diduduki Johan.
"May I change my seat?"
Johan mengangguk dan tersenyum.
"With pleasure," ujarnya sambil berdiri, membiarkan gadis itu menempati tempatnya. Dan kemudian baru dia duduk kembali di tempat gadis itu duduk sebelumnya.
Johan menatap gadis itu sekilas, dan kemudian merebahkan diri ke sandaran kursi berwarna biru. Belum sempat dia memasang headphone di telinganya, suara gadis itu terdengar lagi.
"Where are you come from?" Gadis itu melirik Johan lewat sudut matanya. "Indonesia?" tanyanya lagi.
Johan mengangguk pelan. Dia meletakkan headphone di tempatnya. Dan berpaling melirik gadis itu, sambil tersenyum.
"Aku punya kenalan orang Indonesia," ucap gadis itu lagi, dengan bahasa Inggris yang fasih. "Dulu kami bertemu, ketika dia pertama kali ke rumahku sebagai anak AFS. Dia baik sekali. Sampai-sampai saat dia akan pergi, semua tak rela melepaskannya." Gadis itu tersenyum mengenang. Kemudian seperti teringat sesuatu, dia tertawa. Sambil menyodorkan tangannya, gadis itu menyebutkan namanya. "Akana."
"Nama yang bagus," puji Johan.
"Seperti nama orang Jepang kebanyakan. Oh ya, namaku Johan."
Gadis itu tersenyum.
"Where are you going?"
"Osaka."
Gadis itu tertawa senang. "Kita rupanya sejalan. Tapi Osaka itu luas, lho," sahutnya cepat. "Siapa yang kau cari?"
Johan hanya menjawab dengan tersenyum.
"Ah." Akana tersenyum penuh arti.
"Your girlfriend?"
Johan tersenyum jengah. Tak ada pilihan lain selain mengangguk. Toh kenyataannya itu benar. Amanda satu-satunya gadis yang dicintainya. Jadi untuk apa ditutupi. Lagian belum tentu kan, dia bertemu gadis ini lagi, gumamnya dalam hati.
Johan melirik gadis itu lagi. Kali ini dia tersenyum lega, mendapati Akana sudah tertidur pulas di kursinya.***
"Jadi pergi, Sam?"
Cowok itu mengangguk. Tangannya cekatan memakai sarung tangan dan syal. Sementara tangan satunya lagi menyambar kunci mobil dengan tergesa.
"Aku boleh ikut, kan?"
Sam menggeleng cepat.
"Kalau kau ikut, ini bukan lagi sebuah kejutan dong." Cowok itu tersenyum menggoda. "Aku segera kembali, Nda." Sam beranjak pergi. Tapi kemudian di berbalik. "Yakinlah kalau ini kulakukan untuk kebahagiaanmu, Nda."***
Narita Airport, Japan


Sam duduk diam dalam mobil hijau lumutnya. Tangannya mengetuk-ngetuk setir mobil dengan gelisah. Sesekali dia mengedarkan pandangannya. Menyapu seluruh sudut ruangan.
Sam menatap foto cowok dalam tangannya. Ah. Semoga saja Amanda tidak menyadari, salah satu foto koleksinya telah raib dari albumnya. Kalau tidak begini, dia tidak bisa mengenali sosok yang dicarinya.
Belum lama tangannya membuka pintu, matanya dengan cepat mengenali seseorang, yang berdiri celingukan mencari taksi. Dia berdiri memperhatikan sambil tersenyum senang. Sampai akhirnya dia tak tega dengan kebingungan gadis itu, dan memanggil setengah berteriak.
"Kana...."
Sam tertawa melihat tangan gadis itu meninjunya dari jauh, sambil berlari lincah mendatanginya. Dia tersenyum menyambut. Tangannya terangkat, mengacak-acak rambut gadis itu dengan sayang.
"Tumben?"
Gadis itu meninju lengan Sam, main-main.
"Jangan ge-er dulu, Sam. Aku datang karena mendengar Amanda ke rumah. Jadi bukan kangen sama kamu," cetusnya manja, sambil meleletkan lidahnya menggoda. "Ayo kita pergi. Aku sudah kangen, nih." Tangannya membuka pintu dan langsung duduk di kursi belakang dengan kaki diselonjorkan.
"Aku ke sini, bukan sengaja menjemputmu, Nona." Sam tersenyum menggoda.
"Ah, jadi ada cewek lain lagi?" Akana melongokkan kepalanya. Menatap kakaknya dengan curiga. "Siapa?"
Sam hanya menjawab dengan senyum.
"Sam?"
"Nanti juga kau tahu. Ah!" serunya riang. "Itu dia." Sam melangkahkan kakinya, menghampiri seorang cowok, yang baru saja keluar sambil mendorong troli barangnya.
"Johan?" tanyanya ragu. Dan Sam hanya bisa tersenyum lega, saat menyadari dia tidak salah orang. "Aku Sam. Ingat?"
Johan mengangguk pelan.
"Makasih ya, sudah mengabariku." Dia mengedarkan pandangannya. Seperti tahu yang dicari cowok itu, Sam menggeleng pelan.
"Dia tak datang."
Johan tersenyum. Menyembunyikan kecewanya.
"Aku mengerti. Tidak apa-apa, kok."
Di dalam mobil Akana terperanjat. Orang yang dimaksud kakaknya ternyata adalah Johan, seseorang yang baru saja dikenalnya. Heh, segalanya tak terduga! ***
Di dalam mobil yang melaju kencang, tidak ada yang inisiatif membuka pembicaraan. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dan Sam juga tidak ingin bersuara. Membiarkan kebisuan menyelimuti.
Sam melirik cowok itu dengan ekor matanya. Dia menelan ludah pahit.
Tuhan... apa yang telah kulakukan ini, batinnya pilu.
Seharusnya tak perlu menyuruh cowok itu datang. Seharusnya dia tahu yang dilakukannya ini, malah semakin menyiksanya. Membuatnya merasakan luka lagi. Cowok setampan ini, gumamnya dalam hati. Ah, ya. Tentu saja. Gadis mana yang tidak jatuh cinta padanya? Bahkan juga Amanda!
Dua bulan lalu, saat Amanda datang untuk kedua kalinya, dengan senyum yang sama, dia tahu... di balik senyum itu ada luka yang disembunyikan. Dia juga tahu, di balik sikap tegar gadis itu, tersembunyi hati yang rapuh.
Saat itu, sebenarnya dia sudah ingin mengulurkan tangan. Membantu gadis itu dari kenangannya. Meyakinkannya, bahwa masih ada hari esok untuknya. Bahkan juga cinta!
Tapi itu semua tidak dilakukannya. Dia memilih bicara, jika gadis itu membutuhkan. Setidaknya dengan cara itu, dia mencoba mengerti, dengan membiarkan hatinya membuang harap yang berlebih.
Sam tersenyum giris.
Walau tanpa penolakan, toh hatinya tahu, tak akan pernah ada cinta di hati gadis itu untuknya. Cintanya sudah diberikan bulat-bulat pada cowok di sampingnya ini. Bahkan kemudian rela melepaskannya dan menanggung luka sendiri, demi orang lain yang juga sama berartinya dengan cowok itu.
Sam menggigit bibirnya. Perih! Mungkin itu yang dirasakannya kini. Apalagi saat mobil yang dikemudikannya membelok, memasuki sebuah pekarangan.
"Ah, sudah sampai!" Akana berteriak senang. Membuka pintu dengan tergesa, kemudian menghambur ke dalam. Memanggil Amanda dengan suara rindu.
Sam tersenyum melihat tingkah adiknya. Dia berpaling, menatap Johan. Cowok itu dilihatnya sedang mengusap lembut cincin di jari manisnya. Dia meraba hatinya. Ada desir halus di sana.
Sudahlah! kata hati berbicara. Mungkin gadis itu memang bukan untuknya, gumamnya pahit dalam hati. Dia hanya bisa berharap, bahwa suatu hari nanti, dia akan menemukan seseorang, yang tulusnya seperti gadis itu.
Sam tersenyum. Tangannya menyentuh lengan Johan, pelan.
"Masuklah! Dia ada di dalam."***
Pukul 17.20 Waktu Osaka


Birunya laut menyambut kedatangan sepasang hati. Amanda melepas sepatunya. Membiarkan dinginnya air membasahi kakinya. Dia menghela napas. Membiarkan cowok di sampingnya ini, membuat perasaannya semakin tak menentu. Bahkan mungkin pertahanannya.
"Aku rindu padamu."
Amanda menelan ludahnya pahit. Kalau ingin jujur... dia juga rindu pada cowok itu. Amat sangat!
"Setelah menerima suratmu, ingin rasanya segera tiba di hadapanmu. Mengatakan padamu, bahwa cintaku tak pernah berubah."
Aku tahu, Joe. Walau tanpa kau ucapkan pun, dari dulu aku tahu. Cintamu putih untukku.
"An, kau tak rindu padaku?"
"Joe!"
Johan mengibaskan tangannya. "Aku mengerti. Dia sudah menjelaskannya padaku." Cowok itu tersenyum. "Dia mencintaimu, kan?"
"Joe!"
"Andai saja kita bisa bersama lagi," keluh cowok itu. Menatap Amanda penuh kasih. "Kau tak adil padaku, An!"
Lalu bagaimana caranya, Joe? Baik kau atau pun Sam, sama saja buatku. Tak ada pilihan lain!
Memilihmu, akan menyakiti hati Ilda. Juga mungkin Sam. Jika aku memilih Sam, aku malah menyakiti cowok itu dengan cintaku yang palsu, Joe! Lalu, harus bagaimana lagi agar bersikap adil pada kalian?
"Aku berharap, suatu hari nanti, kita akan seperti dulu lagi, An. Kau mau?"
Amanda tersenyum.
Bagiku... cintamu adalah bagian hidupku, Joe. Tapi untuk hari ini...
Gadis itu menggeleng, aku tak bisa!
Mungkin suatu hari nanti, Joe. Aku percaya, jika ada 'benang merah' di antara kita, hari itu pasti tiba! ©


Keterangan
Aki Same: Musim gugur, yang biasanya disertai hujan.
Ame: Hujan.
Haru: Musim semi.
Doko desu ka: Tadi pergi ke mana?
Tegami: Surat
Sumimasen: Maafkan aku
Akiru: Bosan
Kore wa watashi mo machigai desu: Ini semua salahku.
Arigatoo: Terima kasih
Yuubinkyoku: Kantor Pos
Ni ii kenko: Sudah rada baikan? 
 

♥Bu Eva Journal♥ Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting