Tampilkan postingan dengan label T. Sandi Situmorang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label T. Sandi Situmorang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2011

Dia Datang Malam Ini By. T. Sandi Situmorang

Diposting oleh eva yuanita di 4/29/2011 11:51:00 PM 0 komentar
Angin berkesiur cepat. Menebarkan aroma dingin. Rumpun asoka di halaman depan bergoyang. Samar terlihat seperti tangan-tangan setan melambai. Mengajaknya pergi ke suatu tempat, sekadar menghilangkan kepenatan. Tidak hanya terpaku menanti kehadiran seseorang di ambang pintu yang kerap terbuka.
Almira menghela napas panjang. Ia tidak lagi berdiri di ambang. Ia putuskan duduk di sofa setelah lelah hanya berdiri. Pintu tetap ia biarkan terbuka lebar. Meski keyakinan pada diri mulai menipis. 
Suaminya tidak akan pulang malam ini. Seperti malam-malam kemarin. Penantiannya akan berujung pada kesiaan. Padahal betapa ia berharap, ada sesosok membuka pintu pagar yang tidak pernah ia gembok. Sesosok itu mendekat padanya. Merangkumnya erat dalam dekapan. Mendaratkan ciuman hangat pada bibirnya. Di antara desah napas yang makin memburu, sesosok itu mengajaknya memuncaki bulan seperti di awal-awal pernikahan mereka. Tapi tak pernah. Sampai ia tertidur di sofa, lalu pagi membangunkannya, sesosok itu tak pernah pulang lagi. Apalagi mengajak memuncaki bulan.
Almira menatap jam dinding. Tengah malam tepat. Dimana suaminya sekarang? Apa yang sedang ia lakukan? Mabuk-mabukan di sebuah pub? Menggoyangkan tubuhnya serupa cacing kepanasan di sebuah diskotik? Atau seperti bisik-bisik tetangga, tengah memuncaki bulan dengan seorang perempuan yang ia kutip dari pinggir jalan?
Almira mendegut ludah. Omongan tetangga tidak saja membuat telinga panas, tapi sudah membakar hati. Mengelus dada, pilihan terakhir yang dia ambil, setelah berusaha bertanya pada suaminya. Karena selalu menanyakan kebenaran itu sama saja dengan menambah luka bathin. Ucapan suaminya, membuat ia tercampak pada cadas batu. Mengingatkan kalau ia tidak sempurna sebagai seorang perempuan.
Sepuluh tahun mengarungi lautan pernikahan, suaminya tidak hanya butuh tubuh hangatnya di malam-malam sunyi, atau menyiapkan makanan di meja dan mengurus segala keperluannya. Suaminya menginginkan anak darinya. Itu yang tidak bisa ia beri. Karena ia tak lebih seperti ilalang, tumbuh subur tanpa pernah berbunga apalagi berbuah.
Dari sofa, Almira menatap keluar. Hitam berjelaga. Samar berbayang bunga asoka melambai-lambai tertiup angin yang semakin kencang. Angin itu seolah mengabarkan, hujan hampir tiba.
Tidak lebih lima menit kemudian, hujan benar-benar sampai. Ia mampir di atap rumah Almira, di halaman depan, bahkan juga mampir pada tangan-tangan asoka yang terus melambai.
Angin terasa lebih kencang lagi basah. Dingin semakin mengental. Almira putus harapan. Suaminya tidak akan pulang lagi malam ini. Tidak mungkin dalam cuaca sekacau ini, suaminya berlari menerobos hujan dan dingin hanya untuk berlabuh pada tubuhnya yang juga dingin.
Akhirnya Almira menutup pintu depan. Sebelum membuka pintu kamar lirikan matanya membentur jam dinding. Pukul 02.25 WIB. 
Malam ini, lagi-lagi Almira akan bercinta bersama sepi, di atas ranjangnya sendiri.***
Siang berkerak. Almira sedang beberes di dapur ketika suaminya datang. Gegas Almira mencuci tangan, melepas celemek yang melekat di tubuh dan merapikan rambut yang pasti berantakan, dengan sisiran tangan kanan. Ia ingin tampil menawan di depan suaminya.
Tanpa menatap, apalagi mengajak bercakap, suaminya masuk ke dalam kamar. Almira mengekor dari belakang, melepas beberapa semacam pertanyaan.
"Abang dari mana?"
"Kerja."
"Sampai dua minggu?"
"Keluar kota ," sahut suaminya, dingin melebihi es. Ia lepas dasi yang mengikat leher. Busana yang ia kenakan sangat rapi, wajahnya sesegar buah yang baru dipetik. Tidak terlihat kusut dan lelah seperti baru pulang dari luar kota.
"Abang tidak pamit. Aku cemas menunggu."
"Apa harus?"
"Tentu saja."
Bibir suaminya merapat. Sama sekali tidak ada celah walau hanya sekadar untuk keluar masuk udara. Setelah melepas baju suaminya telentang di atas ranjang. Kedua matanya memejam.
Almira tidak akan menyerah lalu keluar dari kamar. Kali ini, ia harus tahu darimana saja suaminya selama dua minggu ini. Apa-apa saja yang ia lakukan, dan mengapa ponselnya selalu tidak aktif ketika Almira hubungi.
"Dari mana saja Abang dua minggu ini?"
"Kau ingin tahu?" pada dingin suara itu, Almira mendengar ada campuran rasa jengkel.
"Ya."
"Aku berkemah di depan sebuah sekolah taman kanak-kanak."
"Untuk... apa?"
"Untuk apa katamu? Apa lagi yang bisa kulakukan di sana selain menatapi bocah-bocah mungil itu dan membayangkan betapa bahagianya aku, jika salah satu dari mereka berlari kepadaku seraya meneriakkan kata Papa," ucapan itu, seperti peluru yang muntah dari moncong. Melesat cepat lalu bersarang tepat di jantung Almira.
Tanpa kata, tanpa menatap, Almira mundur, keluar dari kamar. Setelah daun pintu tertutup, tubuhnya bersandar di sana . Kembali suaminya menanam luka di hati Almira. Jika boleh memilih, lebih baik suaminya meninggalkan lembam biru di sudut mata Almira ketimbang harus mendengar ucapan itu. Karena lembam biru itu akan tersaput oleh waktu. Sementara ucapan itu akan tetap bersarang di hati Almira.***
Almira membuka daun pintu lebar-lebar. Membiarkan angin malam berebut masuk. Beberapa angin itu mengelus wajah dan tubuhnya, sehingga rambut dan rok yang ia kenakan seperti menari-nari ke belakang.
Almira berdiri tepat di ambang. Menatap pada langit, yang lebih mirip karpet hitam terbentang lebar. Entah kemana bulan juga bintang pergi malam ini. Mereka hanya meninggalkan hitam pada langit.
Angin bertiup lebih kencang lagi. Suaranya mendesis-desis di telinga Almira. Ia menelan nafas pelan-pelan. Kemana lagi suaminya pergi malam ini? Terkadang, Almira malas menebak-nebak. Karena pada akhirnya, selalu ia tidak tahu apakah tebakannya benar atau tidak. Karena setiap kali ia bertanya pada suaminya, bukan jawaban yang ia terima. Justru suaminya akan mencampakkan Almira pada cadas batu. Padahal Almira sudah cukup senang, andai suaminya mau menjawab. Walau ia harus mendengar jawaban dusta.
Almira bersandar pada sisi pintu dengan mendekap tangan di dada. Sunyi terasa mencekik perasaan. Saat seperti ini, ia ingin suaminya ada di sampingnya. Tidak perlu merayunya dengan ucapan beraroma anggur memabukkan. Cukup jemari tangan mereka saling mengulum dan mata mereka menatap sepenuh kagum pada bocah yang belajar merangkak di lantai. Lalu Almira akan terpekik bahagia ketika dari mungil bibir si bocah itu terucap kata mama dengan nada patah dan kaku.
Impian sangat sederhana, tapi tak akan pernah bisa terwujud. Ia bukan perempuan sempurna. Sejak sembilan tahun lalu dokter sudah membuat segalanya mustahil ketika mereka mengangkat rahim Almira. Ditambah suaminya menolak tegas, ketika Almira berhasrat mengangkat seorang anak.
Malam semakin mati. Bangkainya berserakan di halaman rumah, meninggalkan aroma dingin. Dingin itu terasa berkeliaran. Menyentuh-nyentuh kulit Almira. Bahkan terkadang terasa sampai mencubiti tulangnya. Tetapi Almira tidak akan menghindarinya dengan cara menutup pintu rapat-rapat lalu bergelung di balik selimut dalam kamar.
Almira tersentak, di hitam langit, ada segaris cahaya berkilau, lalu meletuskan suara guntur. Tipis-tipis hujan menari. Mampir di depan rumah. Ia mendesah. Setiap menunggu suaminya di ambang pintu, mengapa selalu saja diakhiri oleh hujan?
Akan ia mengalah pada hujan, ketika samar ada bayangan yang mendekati pintu pagar. Bayangan itu membuka pintu pagar yang tidak pernah ia gempok Almira dikepung bahagia. Itu pasti suaminya.
Ada senyum di bibir Almira. Bayangan itu sudah menjelma menjadi suaminya, berdiri tepat di hadapannya. Senyum Almira rontok melihat sesuatu di gendongan suaminya.
"Apa itu?"
"Bayi. Untukmu."
"Bayi siapa?"
"Penting bagimu ini bayi siapa?"
Almira mematung, menatap bayi itu. Sigap tangannya menangkap, ketika suaminya menyerahkan padanya.
Suaminya melangkah masuk. Almira mengekor dari belakang.
"Abang katakan dulu, ini bayi siapa?"
"Urus saja. Dulu, kau yang ribut ingin mengadopsi anak."
Almira membuka kain yang menutup wajah bayi itu. Mata bayi itu terbuka, lalu sudut bibirnya memanjang, membentuk sebuah senyuman. Almira tersentak. Wajah itu seperti jelmaan suaminya. ©

Perempuan yang Selalu Menggenggam Telur By. T. Sandi Situmorang

Diposting oleh eva yuanita di 4/29/2011 11:47:00 PM 0 komentar
Tidak ada yang istimewa. Hanya sebutir telur ayam kampung. Berwarna putih keruh. Tidak ada sebesar kepalan tangan manusia dewasa. Biasa saja. Andai saja perempuan itu tidak selalu menggenggamnya. Sepanjang waktu. Membawa kemana ia pergi. Konon saat tidur dan mandi, perempuan itu selalu menggenggamnya. Hanya berpindah antara tangan kanan dan kiri.
Tentu menjadi sebuah pergunjingan. Desa bukan seperti kota . Di desa ini, segala sesuatu cepat tersebar. Tingkah laku warga, aneh sedikit saja, menjadi topik hangat di warung-warung kopi, kedai sembako, bahkan di pematang sawah sekalipun.
"Sudah gila kurasa. Selalu dia pegang telur itu."
"Barangkali dia sudah ngebet minta kawin." 
"Mana mungkin. Kekasihnya baru saja pergi merantau."
"Aku lihat semenjak kekasihnya pergi merantaulah dia jadi aneh begitu."
"Barangkali dia rindu dengan kekasihnya itu."
"Hus, tidak baik bicara begitu. Tak ada hubungan rindu kekasih dengan selalu menggenggam telur itu."
"Mungkin saja, kan?"
"Janganlah berburuk sangka. Tak baik. Dia itu perempuan suci. Tidak mungkin dia suka memegang telur kekasihnya."
"Ah, mungkin saja. Urusan seperti itu tak memandang orang suci atau tidak. Semua suka." 
"Memang. Tapi "
Begitulah yang kerap terjadi di warung kopi. Topik pembicaraan selalu mengenai perempuan itu. Setiap hari. Berulang-ulang. Dibicarakan oleh orang yang sama. Mereka seolah lupa topik pembicaraan yang mereka suka selama ini: pejabat yang korupsi, dana BLT yang tersendat, sampai masalah judi buntut yang tidak jelas lagi buntutnya.***
"Kau tahu, orang-orang desa semua membicarakanmu."
"Kenapa?" tanya perempuan itu sambil mengelus-elus telur di tangannya. Warnanya tidak lagi putih keruh, tapi sudah putih kebiru-biruan.
"Karena telur itu tidak pernah lepas dari tanganmu."
"Tidak mungkin lepas. Ini masa depanku."
"Masa depan bagaimana?"
"Cukup hanya aku yang tahu."
"Kau terlalu berahasia. Meski dengan aku, sahabatmu sendiri. Itu sebab orang desa menggunjingkanmu. Kau dicap perempuan aneh."
Perempuan itu tersenyum. Matanya menerawang jauh. Terbang melintasi langit biru yang terhampar bak karpet di langit luas. Sementara tangannya masih mengelus-elus telur itu. Tidak akan ia lepas telur itu dari tangannya. Sampai waktunya tiba.
"Bahkan ada yang bilang, kau kegatalan. Ingin kawin."
Senyum perempuan itu pecah menjadi tawa. Pipinya yang kuning langsat tampak memerah. Kawin. Ah, siapa yang tidak ingin kawin. Terlebih dengan seseorang yang mampu menggetarkan hati. Seseorang yang selalu membuat jantungnya menggelepar-gelepar jika mereka bersentuhan.
"Kenapa tertawa?"
"Aku memang ingin kawin. Tapi tidak sampai kegatalan."
"Ayolah, ceritakan padaku kenapa kau selalu menggenggam telur itu."
"Aku tidak mau bercerita kepada siapa pun," kata perempuan itu tegas. Matanya menerawang, jauh. ***
Senja hari. Di dalam sebuah gubuk. Di tengah sawah yang terhampar luas. Hijau. Batang-batang padi mengangguk-angguk seirama digoyang angin. Beberapa burung nekat mencuri butiran-butiran padi. Padahal orang-orangan sawah terlihat berjaga menyeramkan.
"Habis musim panen, aku akan pergi ke kota," kata seorang laki-laki yang berada dalam gubuk itu. Masih muda dan tidak jelek. Rambutnya model cepak. Tubuhnya terbentuk karena selalu berkutat di sawah.
"Untuk apa?" tanya perempuan yang duduk di sampingnya. Seorang perempuan berambut panjang. Berkulit kuning, cantik.
"Mengadu nasib."
"Maksudmu merantau?"
Laki-laki itu mengangguk, mantap.
"Hidup di kota itu keras. Kau hanya tamat SMP. Kau akan kalah sebelum perang dimulai."
"Kau tahu, temanku Marto, baru setahun merantau, ia sudah bisa mengirim uang untuk keluarganya. Dua juta, katanya. SD saja dia tidak tamat."
"Barangkali nasib dia sedang mujur."
"Makanya aku harus mencoba. Biar aku tahu, nasibku mujur atau tidak. Aku bosan selalu terkurung di desa ini. Aku mau melihat dunia luar, yang hebat. Gemerlap. Pasti menyenangkan."
"Lalu aku?" pelan suara perempuan itu.
"Kau di sini saja. Setelah di kota hidupku mapan, aku akan menjemputmu. Kita menikah, tinggal di kota."
Perempuan itu tersenyum. Indahnya ucapan itu. Laki-laki itu balas tersenyum. Tangannya yang kasar bergerak meraih tangan perempuan itu. Meremas lembut. Perempuan itu tersipu malu. Membuat si laki-laki kian berani. Tidak hanya meremas tangannya.
Di luar, padi-padi hijau tetap bergoyang, seirama tiupan angin. Burung-burung semakin nekat mematuk padi, meski mata orang-orangan sawah tetap melotot, menyaksikan.
Tiga bulan kemudian. Perempuan itu mengantar laki-laki itu ke terminal kecamatan. Ia genggam tangan laki-laki itu erat. Betapa berat untuk melepas. Berpisah sekian waktu yang tidak pasti, namun ia tahu akan sangat lama.
Sepuluh menit lagi bis bergerak. Laki-laki itu menggenggamkan sesuatu ke telapak tangan perempuan itu.
"Apa ini?"
"Kau harus berjanji, tidak akan pernah melepaskan sampai aku pulang, menjemputmu. Ini telur pertama dari ayam kesayanganku. Sebenarnya aku ingin memberikan ayam itu padamu. Untuk kau jaga. Tapi aku tahu kau tidak menyukai ayam. Maka kuberi telur ini. Kau harus menjaganya. Seperti kau menjaga rasamu hanya untukku. Buktikan kesetiaanmu dengan selalu menggenggam telur ini."
"Permintaanmu sulit. Tidak mungkin telur ini terus berada dalam genggamanku. Pasti akan menghambat kegiatan sehari-hariku."
"Tidak sulit jika kau punya niat."
Perempuan itu menatap telur dalam genggamannya. Sebuah telur ayam kampung. Putih bersih. Ia bersumpah akan menjaganya. Selalu menggenggam. Seperti ia selalu menggenggam cinta laki-laki itu dalam hatinya. Siang-malam. Suka maupun duka.***
Berita itu menyakitkan. Mampir berulang-ulang di telinganya. Ia tidak percaya. Ia percaya dengan laki-laki itu. Dengan ucapannya dulu. Laki-laki itu akan menjemputnya. Suatu hari. Entah kapan. Namun pasti.
Ia sanggup menjaga telur itu. Dua tahun berada dalam genggaman tangan. Dan laki-laki itu berada dalam genggaman hatinya. Meski tidak sedikit yang coba menggoyah. Ia tetap tegar. Meski harus diakui, terkadang ia goyah juga menghadang gempuran yang bertubi-tubi. Namun telur itu selalu mengingatkan. Menguatkan benteng pertahanan yang mulai melemah.
Meski surat dari laki-laki itu semakin jarang, timbul tenggelam. Akan tetap ia genggam.
"Aku mendengar sendiri dari ibunya. Ia sudah kawin di kota. Bahkan istrinya sudah hamil empat bulan."
Perempuan itu menggenggam erat telur di tangannya. Namun tidak sampai pecah. Dua tahun berada dalam genggaman, ia tahu sebatas mana kekuatan yang harus ia beri agar telur itu tidak pecah.
"Ia sudah melupakanmu. Bahkan meninggalkanmu."
Tidak mungkin. Ia tidak mau mendengar itu lagi. Terlalu menyakitkan.
"Biar kau percaya, singgahlah ke rumah orang tuanya. Lihat foto perkawinannya di sana. Karena kudengar, laki-laki itu mengirimkan foto perkawinan untuk orangtuanya."
Tangan perempuan itu bergetar. Bibirnya bergetar. Pundaknya bergetar. Hatinya juga bergetar.
Namun, telur itu tetap ia genggam. Sebelum ia mendengar dari mulut laki-laki itu. Atau setidaknya, ia yang melihat sendiri.***
"Lihat perempuan sinting itu. Sudah lebih tiga tahun dia selalu menggenggam telur itu."
"Aku pikir termasuk hebat juga dia. Selama tiga tahun selalu menggenggam telur. Tidak pecah pula."
"Aku tidak percaya telur yang digenggamnya itu adalah telur yang dia genggam tiga tahun yang lalu."
"Aku percaya. Lihat saja warnanya sudah aneh begitu."
"Dia begitu karena kekasihnya yang pergi merantau sudah menikah di kota."
"Dia selalu menggenggam telur itu jauh sebelum kekasihnya menikah di kota."
"Tepatnya, dia selalu menggenggam telur itu sejak kekasihnya merantau."
"Kita tidak tahu apa alasan perempuan itu selalu menggenggam telur itu. Tapi berita yang aku dengar, dalam waktu dekat ini, kekasihnya dulu akan datang bersama anak dan istrinya."
Perempuan itu mendengar perbincangan di warung sembako itu. Ah, kekasihnya akan datang juga akhirnya. Meski laki-laki itu datang bukan untuk menjemputnya, ia bahagia.***
Stasiun kecamatan. Perempuan itu berdiri menatap bis yang masuk terminal. Telur itu ada pada genggaman tangan kanan. Matanya menatap lekat setiap penumpang yang turun.
Hari ini laki-laki itu akan datang. Bersama anak dan istrinya. Begitu berita yang ia dengar. Sayang berita itu kurang lengkap. Karena tidak jelas akan datang sekitar jam berapa.
Tidak apa. Ia bersedia menunggu dari pagi. Hingga malam sekalipun.
Kepalanya pusing melihat lalu lalang orang dan kendaraan yang semrawut. Ia putuskan menunggu di gerbang desa. Sama saja. Nanti laki-laki itu akan melewati gerbang itu juga. Karena itu satu-satunya jalan untuk memasuki desa.
Tengah hari. Ia berdiri di gapura desa. Bayangan dirinya hanya sejengkal panjangnya. Perempuan itu mematung, persis tugu selamat datang. Peluh bercucuran di wajah, bahkan di seluruh tubuh. Matanya menatap lurus ke ujung jalan.
Matanya berkedip. Genggaman telur di tangan semakin erat. Laki-laki itu sudah datang. Bersama seorang wanita dan bocah di gendongan. Berjalan mendekatinya. Semakin dekat.
Mereka berhadapan. Wajah perempuan itu dingin menatap. Meski ada bilur rindu, ia sadari tidak tepat untuk memburainya. Maka ia tekan saja dalam hati.
Tanpa dialog. Tanpa suara. Perempuan itu mengangkat tangan. Mencampakkan telur itu tepat di wajah laki-laki itu. Baunya busuk. Berhembus ditiup angin ke segala sudut desa.
Perempuan itu berbalik. Melangkah riang. Ia bahagia. Meski terasa ada yang hilang dari tangannya.
Ia bahagia, bisa memenuhi janji. Meski bukan seperti inginnya. ©

Lelaki yang Pergi Bersama Gerimis By T. Sandi Situmorang

Diposting oleh eva yuanita di 4/29/2011 11:42:00 PM 0 komentar
Di bawah langit redup pagi hari, langkah lelaki itu mengayun mendekatiku. Seperti biasa, ke dua ujung bibirnya memanjang membentuk sebuah senyuman legit. Kali ini dia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna coklat muda, celana hitam. Dasi berwarna abu rokok bercorak garis-garis miring hitam, mengikat gagah lehernya. 
Sekarang ia berdiri di hadapanku. Wajahnya sangat segar. Bibir dan dagunya terlihat membiru bekas cukuran. 
"Selamat pagi, Ibu!" ia ramah menyapa dan melempar senyum. 
"Selamat pagi juga," sahutku berusaha mengimbangi keceriaan yang dia tampilkan. 
Masih bersama senyum ia memasukkan uang ke dalam baskom kecil yang kuletakkan di depanku. 
"Terima kasih. Semoga Tuhan memberkatimu," kataku tulus. Tanpa melihat berapa uang yang dia beri padaku. Bagiku tidak menjadi soal berapa jumlahnya. Sedikit atau banyak, aku harus bersyukur dan melantunkan ucapan terima kasih. 
Dia tersenyum. Mata kami beradu. Hatiku bergetar. Mungkin tubuhku juga. 
"Mari, Ibu!" katanya sopan. 
Aku mengangguk. 
Dia berlalu. Leherku memutar, mengikuti langkahnya memasuki gedung berlantai sepuluh di belakang. Dia bekerja pada salah satu perusahaan di sana. 
Ya, dia karyawan kantoran. Aku hanya seorang pengemis. Dia juga katanya berpendidikan tinggi. Sedang aku tidak tahu apa itu pendidikan. Usia dia, kutebak, berkisar di angka 23 sampai 25 tahun. Sementara usiaku berada di angka 60-an. Kukatakan berada di angka 60-an, karena memang aku tidak tahu pasti berapa usiaku. Hanya kukira-kira saja. Kata orangtuaku dulu, usiaku hampir sama dengan pohon kapuk yang tumbuh di halaman belakang rumah kami, di kampung dulu. Dan sekarang, pohon kapuk itu tidak ada lagi. 
Aku dan lelaki itu memang berbeda. Bahkan sangat berbeda. Mustahil bersatu. Satu perbedaan yang bisa menyatukan, aku wanita dia lelaki. Hanya itu. 
Meski aku tahu perbedaan itu begitu mencolok, aku tidak pernah berniat memupus perasaanku padanya. Malah makin kupupuk. Dan akan kukatakan jika semakin subur. 
Aku mencintainya. Sejak pertama melihat. Ketika itu pagi. Gerimis jatuh melambat. Aku duduk terpaku di halte. Di depanku, baskom kecilku termangu kosong. Di seberang jalan, lelaki itu turun dari angkot. Dia berdiri sebentar di halte. Tubuhnya terlihat menjulang di antara yang lain. Kemeja biru yang dia kenakan sangat kontras dengan suasana yang redup. 
Kedua mataku terpaku padanya. Setelah jalan sepi kendaraan ia berlari kecil, menyeberangi jalan. Berteduh lagi di halte tempatku duduk. Ia berdiri di sampingku. Aroma parfum yang menguar dari tubuhnya bersama angin dan menari di depan penciuman, menimbulkan sensasi di dadaku. 
Aku mendongak. Melumat habis wajahnya. Amboi, Tuhan! Hatiku bergetar. Dadaku berdegup kencang. Nafasku memburu. Ia amat tampan. Garis-garis wajahnya begitu sempurna. Jika ibarat lukisan, pastilah ia hasil sapuan kuas seorang maestro. 
Pandanganku berbalas. Lututku gemetar hebat. Kemudian dia tersenyum. Kulihat gigi atas kanannya gingsul. Malu-malu aku membalas senyuman itu. Sebelum pergi, ia merogoh saku celana. Memasukkan uang ke dalam baskom. Kuambil uang kertas yang dia masukkan tadi. Pelan kuhirup baunya. Wangi sekali. Persis wangi tubuhnya. Sampai hari ini, uang pemberiannya itu masih aku simpan di balik bantal. 
Setelah ia hilang ditelan gedung bertingkat itu, kutarik nafas panjang-panjang. Berangsur debaran di dada hilang. Tidak dengan pesonanya. Ia semakin kuat menjerat. Wajahnya melekat erat di pelupuk mata. Aku ingin melihatnya lagi. *** 
Setiap pagi lelaki itu memberiku uang. Kurasa sisa kembalian ongkos. Saat waktunya makan siang, terkadang ia menemuiku. Membawa beberapa potong kue dan segelas air mineral. 
Seperti saat ini. Dia memberiku empat potong kue, di dalam sebuah kotak kecil berbentuk persegi empat. 
"Kue dari mana ini?" 
"Kebetulan tadi rapat. Ada kue lebih. Tiba-tiba aku ingat sama Ibu." 
Aku tersenyum. Pelan menggigit kue pemberiannya. Enak sekali. Yah, aku juga selalu ingat padamu. Bahkan tadi malam, aku bermimpi kau mendekap dan mencium pipiku dengan lembut. 
"Ibu sudah makan?" 
Pelan aku menggeleng. Jangan. Jangan panggil aku, Ibu. Panggil saja namaku. Sarbiah! Lebih manis dan akrab. 
"Tunggu sebentar, Bu!" dia bangkit. 
"Eh, mau ke mana?" 
"Beli nasi untuk Ibu." 
"Tidak usah. Kue ini cukup," Jangankan dengan empat potong kue. Dengan menatap wajahmu saja aku sudah cukup kenyang. Ah....
"Tak apa. Bisa Ibu makan sore nanti." 
Dia melangkah. Aku menatap punggungnya yang gagah dari belakang. Kurasa ia akan membeli makanan dari kantin kantornya. 
Aku menarik nafas. Mataku coba fokus menatap kendaraan yang lalu lalang. Berharap ada satu dua mobil melintas pelan lantas menepi.Kaca hitamnya menurun sedikit dan melempar selembar atau sekeping recehan untukku. 
Harap yang mustahil ternyata. Kendaraan-kendaraan itu tetap melaju bagai kuda. Tidak ada yang berkenan sekadar melirik padaku. Andai kakiku masih mampu menopang tubuhku, aku akan bangkit dari sini. Mengedar di tengah jalan. Menengadahkan baskom dengan tampang memelas ke mobil-mobil yang mengkilap itu. 
Tidak lama lelaki itu kembali sambil menenteng sebuah plastik hitam. 
"Ini makanan untuk Ibu," dia angsurkan padaku. "Lauknya sengaja dipisah. Biar tidak cepat basi." 
"Terima kasih." 
Dia tersenyum dan mengangguk. Ganteng sekali. Ia duduk di bangku halte. Merapikan rambutnya yang mulai gondrong dengan tangan kanan. 
Diam-diam aku menatap. 
"Ibu tinggal di mana?" 
Aku hanya tersenyum. Sungguh aku malu untuk menjawab. Tidak mungkin kukatakan kalau aku hidup di jalanan. Tanpa rumah dan sesiapa. 
"Ibu masih punya keluarga?" 
Tatapanku beralih. Menatap kendaraan yang lalu lalang. Juga orang-orang yang melintas dari depan. Debu menari tergilas ban-ban kendaraan yang melaju. Dari atas, matahari garang memanggang. Membuat siang terik. Hingga orang-orang yang berjalan bagai robot, enggan menoleh kanan-kiri. 
"Ibu belum jawab pertanyaanku." 
"Jangan tanyakan itu. Boleh?" suaraku seperti dirampok angin. Tapi kuyakin dia mendengar dengan baik. Buktinya dia mengangguk pelan. 
Setelah dia pergi, aku menghela nafas panjang. Pertanyaan yang dia ajukan memaksaku terlempar pada masa lalu. Padahal kalau saja bisa, ingin kuhapus semua dari memori otak. Agar rasa bersalah itu lenyap, atau setidaknya berkurang. 
Masihkah ia tetap sudi menemuiku jika ia tahu kalau aku seorang perempuan yang tega meninggalkan anak dan suami demi melacurkan diri? Yah, aku hanya seorang perempuan bekas pelacur. Yang tidak beruntung bisa menjadi germo setelah tubuhku sudah cukup mengerut untuk kujual. *** 
Sore mendung. Aku masih duduk di halte. Siang tadi, lelaki itu memintaku menunggu di halte ini. Hatiku berbunga. Kurasakan dadaku mengembang dan terlempar pada beberapa puluh tahun yang lalu. Serasa aku seorang gadis belia yang tengah menanti kedatangan pemuda idaman hati. Akan kami lewati senja ini berdua saja di sebuah taman yang penuh bunga. Atau hanya duduk berpelukan di tepi kolam dan menertawai dua angsa yang tengah bercumbu di tengahnya. 
Ia sudah datang. Bersama senyumnya. Melemparkan anganku. 
"Hari ini aku gajian. Ini gaji pertamaku," lelaki itu mengangsurkan selembar uang seratus ribu. Wajahnya cerah. Senyumnya sumringah. 
Tapi tidak denganku. Aku tidak butuh uang itu. Yang aku butuhkan hanyalah dirinya. Aku mau dia mengajakku jalan-jalan dan bercengkrama di sebuah mal. Atau menonton film horor di bioskop sembari mengunyah popcorn. Jika hantu dalam film muncul, aku akan menjerit lantas membenamkan kepala di dadanya yang lebar. Dan ia akan mengelus rambutku untuk sekadar menenangkan. Pada saat itu, aku hanya akan tersipu jika dia nekat mencium pipiku. 
Itu yang kumau. Bukan uangnya. 
"Kurang Ibu?" 
Ia menatap. Dengan keberanian yang susah payah kubangun, aku balas menatap. Tubuhku bergetar. Aku memaling. Tidak kuat aku menentang tatapannya. 
"Aku tidak butuh uangmu," kataku pelan. Memori yang demikian kuatnya menggerakkan bibirku. Masa belia, masa-masa indah dulu dan hari-hari yang memerah jambu adalah ironi. Astaga, aku terseret masa, dan mendapati seorang nenek tua yang ringkih tak berdaya. 
"Maksud Ibu?" Pemuda itu terlonjat sebelum kusadari kekeliruanku. Maaf, bukan aku sengaja! 
'Ajaklah aku menonton film di bioskop. Atau bercengkrama di sebuah cafe. Atau memadu cinta di sebuah taman yang romantis.' Kalimatku membeku di lidah, seperti abnus getas yang mudah patah. Dan hanya tergelincir di dalam hati. 
Ia terlihat masih bingung dan terkejut, bola matanya lurus ke wajahku. 
Mataku memejam sesaat. Memori jangan seret aku ke dalam dilema yang menyakitkan. Adalah sebuah masa lalu yang mesti dibuang, dan bukannya untuk menjadi sebingkai kenangan berdebu.
"Maaf, Ibu. Gerimis jatuh. Saya harus pergi. Ada janji dengan kekasih saya," wajahnya memutih. Sebelum benar-benar pergi, ia lemparkan uang seratus ribu itu ke dalam baskom.
Aku mengantar dengan tatapan. Lidahku patah untuk memanggil. Akhirnya ia hilang dari pandangan. Pergi bersama gerimis yang mulai menari. ©

Pertemuan By. T. Sandi Situmorang

Diposting oleh eva yuanita di 4/29/2011 11:27:00 PM 0 komentar
Angin berhembus kasar. Ranting-ranting pohon bergoyang, hingga beberapa dahan kering berguguran ke tanah. Dinginnya terasa tidak enak di kulit.
Aku duduk bersandar pada salah satu tiang gazebo di Taman Budaya Sumatera Utara. Orang lalu-lalang di sekitar. Bahkan di open stage, segerombol remaja tengah riuh melatih tari.
Mataku mengarah ke luar, menuju jalan raya. Berharap beberapa rekan penulis yang tengah kutunggu menampakkan diri di sana. Namun, tidak ada. Padahal duapuluh menit sudah berlalu dari waktu yang telah disepakati.
Nafas kutarik dan lepas perlahan. Budaya jam karet memang sudah lama menggurita di negeri ini. Menyerang rata pada tiap individu. Akhirnya, sekadar membunuh jenuh, kubolak-balik lagi koran terbitan hari ini. Membaca cerpen yang tadi sudah kubaca.
"Selamat siang!"
Suara halus dan lembut mampir di telinga. Aku tidak yakin sapaan itu ditujukan buatku. Begitu kepalaku terangkat, seraut wajah asing—namun mengasyikkan—tersenyum. Ragu aku membalas. Karena takutnya ia tengah tersenyum kepada seseorang- yang barangkali ada di belakangku. "Tito Yudha?" 
Mantap aku mengangguk. Itu namaku. 
Senyumnya kian sumringah. Ia naik ke gazebo. Mengulurkan tangan untuk berjabat. 
"Saya Wina, salah satu penggemar cerpen-cerpenmu. Terutama yang banyak dimuat pada salah satu majalah wanita terbitan ibukota." 
Aku tersenyum ramah. Menjabat erat tangannya yang halus dan mungil. Sumpah, aku tersanjung dengan ucapannya barusan. Meski ia-mungkin orang kesekian ratus-yang mengatakan penggemar cerpen-cerpenku. 
Ya, aku memang seorang penulis. Cerpenis tepatnya. Bisa kukatakan aku hidup untuk menulis dan aku hidup karena menulis. 
"Senang bisa berjumpa dengan Anda." 
Ia tertawa. Lepas dan renyah. Bibirnya yang merah tampak merekah. 
"Sebut saja Wina. Terdengar lebih akrab. Aku akan memanggilmu dengan Tito. Tak apa, kan?" 
"Terserah saja," sahutku ringan. Seringan angin yang berhembus, meniup wajahku.***
Wina. Wina. Wina.
Dia datang dengan tiba-tiba, tanpa kuduga apalagi kuundang. Dia ibarat daun jatuh yang dihempas angin ke depanku. Semudah itu pula kami menjalin hubungan. Semula, dia meminta nomor ponselku. Tanpa berpikir apa-apa kuberi saja. Alasan dia juga masuk di akal, untuk memberi selamat jika sewaktu-waktu ia membaca salah satu cerpenku yang termuat media.
Awalnya dia memang hanya memberi selamat. Tetapi di lain hari ia menanya kabar. Pada waktu yang lain lagi, apa saja kegiatanku sekarang, di saat yang lain, ia juga menanya kabar isteriku. 
Masih biasa-biasa saja. Ketika dia mengajak bertemu di suatu tempat, kupikir juga biasa saja. Dia temanku sekarang. Apalagi dia menyerahkan tempat dan waktu padaku untuk pertemuan kami itu. 
Begitulah. Dari pertemuan pertama berlanjut pada pertemuan ke dua dan selanjutnya. Dari pertemuan terkesan formil mencair menjadi pertemuan santai. Tempat dan waktu kami bertemu pun beragam. Taman budaya, café, toko buku, diskotik, rumahnya. Ruang-ruang yang kami masuki juga makin melebar. Dari semula aku hanya duduk di teras, akhirnya berpindah ke ruang tamu, ruang keluarga, dan akhirnya kamar tidurnya.
Semua tempat kami jadikan pertemuan. Dan semua hal sudah pernah kami lakukan. *** 
Cafe tampak lengang. Hanya ada beberapa pengunjung duduk di meja paling sudut. Di atas stage, seorang perempuan cantik merintih-rintih menyanyikan sebuah lagu Top 40. 
Malam tak lagi muda. Dari jendela kaca-meski samar-terlihat gerimis di luar. Hampir dua jam kami habiskan waktu di sini. Membuatku bosan dan jenuh. Sebetulnya, sedari tadi aku sudah ingin bergelung di balik selimut tebal dan hangat. 
Tidak mungkin aku pulang dan meninggalkan Wina sendirian di tempat ini. Kurasa dia sudah mabuk. Entah sudah berapa gelas long island ia sesapkan ke dalam perutnya. Sedang aku sendiri, meski tidak meminum sebanyak yang ia minum, sudah sangat kepayahan. Aku memang jarang minum alkohol. 
"Malam ini kau tidur di rumahku saja." 
"Aku sudah beristri. Tidak sepertimu yang hidup sendiri." 
Ia terkekeh. Persis tante-tante mabuk yang kerap muncul di layar sinetron. 
"Aku tidak meminta kau menjadikan aku istrimu. Lagipula tidak ada undang-undang yang melarang seorang penulis mempunyai istri lebih dari seorang. Jadi kalau kau berniat, aku sih oke saja," ia meraih gelas, meminum sampai tandas isinya. 
Rokok di tanganku kulumat di asbak. Aku tidak suka mendengar ucapannya barusan. Terdengar menjijikkan. Ia seperti perempuan murahan saja. 
"Kita pulang." 
"Aku ingin menghabiskan malam bersamamu. " 
"Istriku sudah menunggu di rumah." 
"Telepon saja. Katakan kau bersamaku." 
Rahangku mengeras. Ia sudah keterlaluan. Tingkah lakunya terkadang memuakkan dan memancing emosi. Aku bosan. 
Tapi tidak akan pernah kusesali awal pertemuan kami. Karena bagaimana pun, ia sudah memberiku banyak kebahagiaan. Menikmati malam-malam panjang hingga tak terasa berlalu. Bersamanya, aku menikmati hal baru yang tidak pernah kudapatkan bersama istriku. Bersamanya juga, inspirasiku mengalir serupa air bah. 
Kadang juga aku tergoda untuk membandingkan dirinya dengan isteriku. Tetapi kuanggap itu tidak adil. Karena mereka berdua memang sangat berbeda. Mereka merupakan gambaran dua perempuan yang terpisah arus sungai yang sangat deras. Sangat berbeda dan mustahil bisa dipertemukan. 
Wina sarjana lulusan luar negeri. Dia juga seorang pimpinan sebuah perusahaan bonafid. Ia wanita karier yang menganggap pernikahan hanya membatasi geraknya. Sedang isteriku perempuan kampung tamatan SMA. Tahunya hanya kamar, sumur dan kasur. 
"Kau tidak merasa malam ini teramat dingin?" mulutnya menempel di telingaku. Hembus napasnya sangat terasa. 
Aku menggeliat. Menjaga jarak darinya. 
"Aku bisa beri yang tidak kau dapat dari istrimu." 
"Hidupku sempurna. Tidak kekurangan apapun." 
Ia tertawa, seolah mengejek. Ia sesapkan lagi minuman memabukkan itu ke dalam mulutnya. 
"Sudah kukatakan, aku pengagum cerpen-cerpenmu. Terutama yang dimuat di majalah wanita. Meski tidak pernah tercetus, aku tahu kerinduanmu tentang hadirnya seorang anak. Sudah berapa lama kau menikah? Hampir lima tahun, kan?" ia tertawa, terdengar mengiris telinga. 
Aku menggeram. Aku benci dengan ucapannya. Segera kutinggalkan ia. Ia mengekor dari belakang, menarik tanganku. Membawaku keparkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Ia membawaku pergi. 
Entah kemana.***
TBSU jam satu siang. Kami duduk di gazebo. Sekitar tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang. 
"Bicaralah!" kataku. Tadi melalui sms ia memintaku hadir di sini. Ada hal penting yang hendak ia ungkap. 
"Aku hamil. Tujuh minggu." 
Aku tertawa sumbang. Ia pasti tengah bercanda. Suaranya saat berucap tadi, benar-benar seringan kapas. Sangat tenang sekali. 
"Syukurlah kau senang mendengarnya." 
"Aku senang karena kau masih bisa bercanda." 
Ia diam. Mengambil sesuatu dari dalam tas tangan. Sebuah kertas putih berlogo praktek dokter ia pampangkan ke wajahku. 
"Itu pasti bukan anakku." 
"Selama tiga bulan ini aku hanya tidur bersamamu." 
"Gugurkan saja." 
"Aku menginginkan anak ini." 
"Aku tidak." 
"Yang hamil aku, bukan kau." 
Aku menggeram,meremas rambut. Sial, mengapa harus dari dia? Lima tahun aku berharap mendapatkan anak dari istriku, justru dari perempuan yang baru kukenal tiga bulan, itu terjadi. 
"Tenang saja. Jangan panik begitu. Aku tidak akan mengganggu rumah tanggamu." 
"Maksudmu?" 
"Aku tidak memintamu menikahiku. Cukup akui ini anakmu. Aku akan merawatnya sendirian." 
"Tapi " 
Dia tersenyum. Terlihat lebih cantik dari biasa. "Aku mencintaimu. Aku cukup bahagia bisa punya anak darimu."***
Malam jatuh sempurna. Angin bertiup kencang. Menggoyang pohon mangga yang tumbuh di samping kamar. Suara ranting yang beradu terdengar mengerikan. 
Aku duduk menghadap komputer. Mengerjakan sebuah cerpen. Di atas tempat tidur, istriku tengah tekun membaca sebuah majalah. 
"Abang dengar suara itu?" 
"Suara apa?" tanyaku tanpa menoleh. 
" Ada yang mengetuk pintu." 
"Tidak mungkin. Ini hampir jam sebelas. Itu pasti suara angin." 
Istriku keluar kamar. Kubiarkan saja, meneruskan tulisanku di komputer. 
Tidak lama ia menerobos masuk. Wajahnya sumringah, senyumnya lebar. Ia menggendong seorang bayi. 
"Anak siapa itu?" 
"Nggak tahu, Bang. Wanita yang mengetuk pintu tadi memberi anak ini padaku. Ia hanya bilang, suamimu akan bahagia kalau kau mau merawat anak ini." 
"Mana perempuan itu?" 
"Sudah pergi, Bang." 
Aku berlari keluar kamar, membuka pintu depan. Tidak ada siapa-siapa di luar. Hanya ada gelap dan dingin. Aku termangu sebentar. 
Mungkin itu Wina? Setelah pengakuan tentang kehamilannya ia menghilang bagai diterjang angin. Tanpa meninggalkan jejak dan bekas. 
Aku berlari ke ujung jalan. Berharap ia masih ada di sana. Tapi tak ada. Hanya ada malam dan angin. ©

Putihnya Hati Putri By. T. Sandi Situmorang

Diposting oleh eva yuanita di 4/29/2011 11:21:00 PM 0 komentar
Satpam berkumis runcing itu menatapnya lekat, dari atas kepala hingga kaki. Lalu beralih lagi pada wajahnya. "Kamu siapa?" 
"Wawan, Pak. Teman sekolahnya." 
"Sudah buat janji?" 
"Belum." 
"Kalau begitu tidak bisa. Non Putri sedang tidur siang. Nanti saja kembali lagi. Sorean dikit, atau malam. Atau buat janji lebih dulu," ujarnya dingin. Sedingin udara lembab sehabis hujan. 
"Tapi, Pak...." 
Satpam yang di bajunya tertulis besar-besar nama SAMURI itu menggeleng tegas. Membungkam kata yang akan terucap dari bibir Wawan. 
"Saya harus ketemu sekarang, Pak. Ada hal penting yang akan saya bicarakan." 
"Kamu mengerti bahasa Indonesia tidak?" ketus suaranya. 
"Tolong saya, Pak. Atau biarkan saya saja yang membangunkan Putri." 
Satpam itu menatapnya tajam. Lalu tanpa kata dia tinggalkan Wawan, kembali duduk di pos. Kini matanya tertancap pada tivi 14 inch di depannya. 
Wawan mendegut ludah. Tangannya berpegang erat pada terali besi pagar. Tubuhnya mulai menggigil. Akibat tersiram hujan lebat. Sebelum meninggalkan rumah, memang mendung telah menggayut. Tapi Wawan tidak peduli. Kesehatan Ibu lebih penting daripada sekadar hujan. Akibat tak ada ongkos, terpaksa ia menempuh jarak sejauh empat kilometer dengan kaki. 
Di tengah perjalan hujan deras mengguyur. Begitu sampai di depan rumah Putri, hujan telah reda. Hanya meninggalkan angin lembab dan basah. 
Kepala Wawan mendongak. Jendela paling ujung di lantai dua itulah kamar Putri. Mudah-mudahan saja Putri melihatnya berdiri di sini. 
Semenit, dua menit, tiga menit. Tak ada wajah yang terlihat pada jendela itu. Wawan menurunkan wajah, beralih pada satpam yang terlihat merem-melek menikmati suguhan musik dangdut di tivi. 
"Pak!" 
Tak ada reaksi. Wawan memanggil lebih keras. 
Satpam itu bergerak. Menoleh pada Wawan. "Belum pergi juga?" 
Barangkali Putri sudah bangun, Pak! Bisa tolong...." 
"Susah bicara sama orang dungu macam kamu. Dijelaskan nggak bakal mengerti." 
Wawan mendegut ludah. Kalau tidak mengingat kondisi ibu yang makin kritis, sudah sedari tadi dia meninggalkan satpam sok jago dan tak punya perasaan itu. 
Wawan terlonjak melihat ada bayangan pada jendela kamar Putri yang hanya tertutup tirai tipis itu. 
"Put! Putri!" teriaknya sekuat suara. 
"Hei, apa-apaan kamu!" 
"Putri!!!" panggil Wawan dengan membuat kedua tangannya seperti corong di mulut, agar suara yang keluar lebih keras. 
Tirai tipis pada jendela bergerak. Terlihat wajah Putri di sana. Tangan Wawan melambai. 
Putri tersenyum. Lantas wajahnya menghilang. Pasti dia sedang turun ke bawah. ***
"Kamu kenapa, Wan?" 
"Tadi kehujanan. Jadi...." 
"Kenapa tidak masuk?" 
"Nggak diizinin sama satpam kamu," sahut Wawan melirik satpam berkumis runcing-runcing yang berdiri salah tingkah itu. 
"Kenapa nggak dikasih masuk, Pak?" 
"Atas pesan Nyonya, tidak sembarangan tamu bisa masuk." 
"Wawan ini teman saya." 
"Tapi...." 
"Sudah. Cepat buka pintunya." 
Tanpa protes lagi satpam itu membuka pintu pagar. 
"Masuk, Wan!" 
"Nggak usah, Put. Aku hanya perlu sebentar." 
"Kita bicara di teras saja." 
Ragu Wawan mengikuti langkah Putri. 
"Kamu ada masalah?" tanya Putri pelan. 
"Penyakit ibuku kambuh lagi." 
"Sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Putri khawatir. 
"Itulah makanya aku datang ke mari," sahut Wawan pelan. "Aku... nggak ada biaya." 
"Ya ampun, Wawan! Kamu bagaimana, sih? Kenapa nggak bilang dari tadi?" 
Seperti biasa Putri mengambil sedikit uang dari tumpukan uang dari lemari pakaiannya. Bahkan kali ini Putri berbaik hati membawa Ibu Wawan ke rumah sakit. ***
"Temani aku beli buku." 
"Aku nggak bisa." 
"Lagi?" 
Wawan mengelak dari tatapan Tia. "Mengertilah," desisnya pelan. 
"Berapa lama lagi aku ngertiin kamu? Sementara kamu tak pernah menjelaskan ada apa sebenarnya." 
"Tak ada apa-apa. Aku hanya sibuk. Jadi tak ada waktu." 
"Kesibukan apa hingga kamu selalu tak punya waktu?" 
"Tolong, jangan desak aku." 
"Aku akan terus bertanya sampai kamu jelaskan semuanya padaku." 
"Kamu memaksa?" suara Wawan mulai tidak enak. 
"Aku punya hak untuk itu!" 
Wawan menarik napas. Menatap gadis yang duduk di sampingnya. Tia pacarnya. Hampir setahun mereka menjalin cinta. Mereka berbeda sekolah, tapi masih bertetangga. Tia sama dengannya. Sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu. 
"Aku sibuk, Tia. Harus ngerjain PR, beresin rumah, masak buat ibu. Kondisi Ibu kurang fit. Jadi harus aku yang mengerjakan semuanya," ujar Wawan dengan kepala menunduk. 
"Perlu bantuan?" suara Tia melunak. 
"Nggak usah. Aku bisa kerjakan sendiri." 
Diam-diam Wawan menarik napas lega. Andai saja Tia tahu kalau dia tengah berbohong. Tak ada PR yang harus ia kerjakan. Ia juga tidak harus membersihkan dan memasak buat ibu karena semuanya sudah dikerjakan ibu. Malah ibu sudah mulai berjualan sayuran di pasar. Mulai hari ini dan seterusnya ia harus menjaga jarak dengan Tia. Jika Wawan merasa waktunya sudah tepat, ia akan memutuskan tali cintanya. 
Bukan karena ia tidak lagi mencintai Tia. Tapi ada hal lain yang harus dia kedepankan ketimbang urusan itu.***
"Capek?" 
Gadis berkulit putih itu menggeleng. Peluh mulai bermunculan di sekitar dahinya yang mulus. 
"Biar aku saja yang menyelesaikan. Jangan terlalu kamu paksakan." 
"Tinggal sedikit lagi, kok." 
Wawan membantu Putri mengatur letak kursi-kursi itu. Akan ada seminar 'Bahaya Narkoba bagi Remaja' di sekolah mereka. Kebetulan mereka berdua masuk sebagai anggota seksi repot. 
"Sudah, istirahat saja, Put." 
"Aduh, Wan. Jangan kuatir begitu, ah. Kesannya kamu ngeremehin aku." 
"Tapi kamu nggak biasa kerja beginian." 
"Mulai hari ini aku harus biasakan. Siapa tahu dapat jodoh...." 
Wawan mengerti arah ucapan Putri. Makanya ia biarkan Putri ikut mengatur tata letak kursi itu. Bahkan ia hanya geleng kepala melihat Putri menyapu halaman aula sekolah. Bagi Wawan tidak sulit melakuan semua itu. Tapi tidak bagi seorang Putri. Putri anak konglomerat. Pembantu di rumahnya saja mungkin ada lusinan. 
Wawan menghela napas panjang. Ia tahu untuk apa Putri mau bersusah payah begitu. Ia juga tahu apa yang harus ia lakukan agar Putri tidak kecewa. Karena Putri teramat berjasa baginya, juga ibunya. 
"Besok sore kamu datang, kan?" 
"Pasti, dong! Aku kan panitia juga. Lagipula sangat penting bagi remaja seperti kita untuk mengetahui apa saja efek negatif yang ditimbulkan narkoba. Memangnya kenapa?"
"Tunggu aku di rumah. Aku akan jemput kamu." 
"Nggak usah, Put. Aku naik angkot saja." 
"Jangan menolak kebaikan orang. Lagian, aku senang bisa nolong kamu." 
Wawan diam. Di kepalanya muncul Tia. Bisa berabe kalau Tia melihat Putri.***
"Kata Ibu, tadi kamu datang ke rumah." 
Tia tersenyum, lantas mengangguk. Ia ajak Wawan duduk di teras rumahnya. 
"Ada apa?" 
"Besok sore teman sekolahku ada yang ulangtahun. Aku mau ngajak kamu." 
Wawan mendegut ludah. Perubahan wajahnya membuat perasaan Tia tidak nyaman. 
"Besok sore ada acara di sekolah." 
"Kamu nggak bisa?" 
Wawan mengangguk. "Maaf!" 
"Akhir-akhir ini perasaan aku nggak enak, Wan. Sikap kamu lain sama aku. Kamu seperti menghindar dan menjaga jarak." 
"Benar aku ada acara di sekolah. Seminar tentang narkoba. Aku termasuk salah seorang panitia. Jadi nggak mungkin aku nggak datang." 
"Bukan cuma kali ini. Tapi selalu kamu menolak ajakanku. Bahkan kamu nggak pernah lagi datang kemari." 
"Aku...." 
"Ada orang ketiga?' 
"Maksudmu?" 
"Kamu punya cewek lain?" 
"Kamu menuduhku selingkuh?" 
"Sikapmu menjurus ke arah itu." 
Walau berat, Wawan menghela napas panjang. Belum saatnya. Yah, belum saatnya ia bicara jujur kalau dalam hidupnya memang ada cewek lain. Wawan tidak mau Tia terluka. Terlebih lagi, perasaannya pada Tia tidak pernah berubah meski telah ada Putri.***
"Ayo, Put!"
"Nggak pamit dulu sama ibu kamu?" 
"Tadi udah, kok!" 
Wawan menarik tangan Putri. Mereka harus cepat pergi. Jangan sampai Tia melihat Putri datang menjemputnya. Bisa gawat nanti. 
Begitu keluar dari rumah, Wawan berdiri kaku di samping Putri. Di depan mereka berdiri Tia dengan tampang mirip serigala marah. 
"Jadi cewek gendut ini yang membuat sikapmu berubah sama aku?" sengit suara Tia, tangannya menunjuk Putri. 
"Tia, jaga mulutmu!" 
"Jangan muna, deh! Sudah jelas kamu berduaan sama cewek jelek ini. Nggak sangka, mata kamu bisa silau karena mobil mengkilapnya itu." 
"Tia!" bentak Wawan. 
"Apa?!" Tia melotot dengan sikap menantang. 
Tanpa suara Putri berlari ke dalam mobilnya. Matanya berkaca-kaca. Seumur hidup belum pernah ia dihina orang seperti ini. 
"Putri, tunggu!" 
Mobil melaju. Putri tak acuhkan panggilan Wawan. 
"Puas kamu?!" desis Wawan tajam, sebelum meninggalkan Tia. 
"Wan, tunggu!" 
Wawan mengibaskan tangan tanpa menoleh. Ia banting pintu depan sekuat tangan.
Ia tidak mau bicara untuk saat ini.***
"Kalau kamu jujur sama Tia, nggak bakal dia menghina aku seperti kemarin. Aku memang jelek dan gendut. Cuma punya uang. Tapi nggak pantas dia menghina aku begitu." 
"Maafkan aku, Put!" 
"Aku juga nolong kamu dengan tulus. Bukan karena aku ingin jadi pacar kamu. Bukan, Wan!" 
Wawan menatap wajah Putri. Ia malu pada dirinya sendiri. Selama ini ia berpikir segala kebaikan Putri padanya bagai ada udang di balik batu. Ia pikir Putri jatuh cinta padanya. Makanya ia rahasikan Putri dari Tia, begitu juga sebaliknya. 
"Besok aku akan minta Tia untuk minta maaf sama kamu." 
"Nggak perlu, Wan. Bilang saja sama dia, aku bukan cewek perusak hubungan orang." 
Wawan mengangguk. 
Ah, Putri! Hatimu memang seribu kali lebih cantik dari rupamu, bisik Wawan dalam hati. ©

Bintang Tak Akan Jatuh By. T. Sandi Situmorang

Diposting oleh eva yuanita di 4/29/2011 08:27:00 PM 0 komentar
Tiara, semua yang ada padamu hanyalah keindahan dan kesempurnaan. Andai saja kamu buatan pabrik, tentulah kamu rakitan seorang maestro dengan komponen pilihan utama. Tidak saja kamu cantik. Tapi juga pintar. Rendah hati, ramah dan baik. Mungkin penilaianku sangat subjektif. Tapi memang begitulah kamu. 
Tiara. Aku mencintaimu. Bahkan amat sangat mencintaimu. Cintaku padamu melebihi apapun di muka bumi ini. Termasuk diriku sendiri. 
Mungkin terdengar gombal. Tapi begitulah adanya. Dan aku yakin aku bukanlah satu-satunya pria yang mencintaimu. Tapi aku juga yakin tak ada pria yang mencintaimu melebihi aku. Katakan Tiara, apapun kulakukan demi menyenangkan hatimu. Dan apapun akan kuberikan demi mendapat cintamu. 
Tiara.... 
"Aduh...." 
"Melamun lagi? Kamu tahu tidak, kucingku kebanyakan melamun, sorenya mati kelindas kereta api." 
Aku mengelus kepalaku yang ditimpuk Joko dengan tasnya. "Itu kucingmu. Kucingku lain lagi ceritanya." 
"Apa?" 
"Pagi melamun, sorenya diadopsi sama Nafa Urbach." 
Joko terbahak. "Ngarang!" 
Aku mesem. Bayangan Tiara hilang dari benak. Namun justru sosoknya yang kini hadir di depan. Tanpa menoleh kanan-kiri apalagi ke atas, Tiara melenggang indah menuju bangkunya yang berada paling depan sebelah kanan. 
Makin hari Tiara makin cantik saja. Dengan rambut model apapun, selalu sesuai dengan wajahnya. Andai dimodelin rambut Rohaye, barangkali Tiara tetap cantik. Atau bisa jadi kian kiyut. 
Tiara, I really love you. So much. 
"Hei...," Joko mencolek bahuku. 
"Apa?" 
"Lihat, Tiara makin cantik saja. Tapi sayang...." 
"Kenapa?" tanyaku penasaran. 
"Sayang dia nggak mau sama aku." 
"Habis wajah kamu jelek. Nggak komersil." 
Joko mencibir. "Kayak kamu itu kebagusan saja." 
"Wajahku memang nggak menarik. Tapi aku punya percaya diri yang tinggi." 
"Itu bukan percaya diri namanya. Tapi nggak tahu diri." 
"Lihat saja. Aku akan mendapatkan Tiara." 
"Mimpi!" ejek Joko, menahan senyum. 
Tiara cantik, itu semua orang tahu. Banyak lelaki yang jatuh cinta padanya, itu juga sudah menjadi rahasia umum. Tapi kalau aku terobsesi untuk mendapatkan Tiara, itu hanya aku yang tahu. 
Setahuku Tiara belum punya pacar. Tapi andai pun sudah punya pacar, langkahku tak akan surut. Selagi janur kuning belum menggantung di depan rumahnya, Tiara masih bebas memilih. Apalagi di zaman edan ini, yang punya anak saja masih ada yang mengejar.***
"Hai...." 
"Hai juga!" 
"Nggak turun ke kantin?" 
"Malas." 
Aku mengambil tempat di kursi sebelah Tiara. Kebetulan jam istirahat. Kebetulannya lagi Lia teman sebangku Tiara sudah turun ke kantin. 
"Kamu nggak ke kantin?" 
"Malas juga." 
Tiara tersenyum mendengar jawabanku yang tidak kreatif. 
"Asyik sekali. Baca apa?" 
Tiara menunjukkan buku di tangannya padaku. 
"Oh, suka baca novel?" 
"Iya. Khususnya Marga T sama Mira W. Ceritanya ringan dan mudah dicerna." 
"Supernova suka nggak?" tanyaku asal. 
"Pernah baca sih. Bukannya terhibur, yang ada kepalaku pusing. Ribet banget." 
"Sama, dong!" 
"Kamu suka baca novel juga?" 
"Terkadang. Kalau lagi suntuk atau nggak ada kegiatan." 
"Kamu suka siapa? Agatha, ya?" 
Aku bingung. Tapi akhirnya kuanggukkan saja kepalaku. Untungnya Tiara tak bertanya lebih lanjut. Karena aku tidak tahu siapa itu Agatha. Mungkin Agathawati, atau mungkin juga Agatha Dewi. 
Tiara terlihat antusias. "Di rumah banyak buku Agatha. Kebetulan abangku ngefans sama dia. Kalau kamu mau datang saja ke rumah." 
"Kapan aku boleh datang?" 
"Terserah kamu." 
"Malam Minggu, boleh?" tanyaku ragu-ragu. 
Tiara diam sejenak. Tapi akhirnya mengangguk. 
Aku tersenyum senang. Dadaku buncah. Ah, Tiara. Ternyata tak sesulit dugaanku untuk mendapatkanmu. ***
"Kamu terlihat dekat sama Tiara." 
"Siapa dulu, dong. Robert!" kataku sambil menepuk dada. 
Joko mencibir. "Kamu pelet dia?" bisiknya kemudian. 
Aku melotot sama sahabat kentalku itu. "Pikirmu aku cowok pengecut, yang hanya berani mengambil jalan pintas?!" 
Kembali Joko mencibir. "Kalau nggak mana mungkin Tiara mau dekat-dekat sama kamu. Kamu kan jelek banget." 
"Berapa kali aku harus bilang, kegantengan bukan segalanya. Masih ada sesuatu yang lebih penting di atas itu." 
"Apa?" 
"Cinta dan perhatian. Plus kasih sayang." 
Joko terbahak. Seolah mengejek ucapanku barusan. Terus terang aku sakit hati mendengar tawanya itu. 
"Kalau hanya itu, setiap orang juga punya untuk cewek secantik Tiara. Tapi harta dan tampang, tidak semua orang punya." 
"Terserah anggapan kamu. Yang pasti Tiara memilih aku sebagai cowok yang paling dekat dengannya untuk saat ini. Itu karena aku punya keistimewaan, dong!" 
"Dukun kamu barangkali, sakti luar biasa." 
Aku menatap Joko tak suka. "Terserah apa kata kamu."***
Pagi di sekolah. Di ruang kelas, hanya ada aku sama Tiara. Memang semenjak dekat dengan Tiara, aku selalu berusaha untuk datang sepagi mungkin. Biar bisa berduaan. Agar kami semakin akrab dan lebih mengenal pribadi masing-masing. 
"Beth, minggu depan aku ulangtahun." 
"Oya?" 
"Rencananya mau aku rayain." 
"Di hotel atau cafe?" 
"Di rumah saja. Aku bisa minta bantuan kamu?" tanyanya ragu-ragu. 
"Bisa, dong!" sahutku cepat dengan dada membusung. Cowok mana yang tidak berbangga hati bila diminta bantuannya oleh seorang cewek yang amat dicintainya. "Bantuan apa?" 
"Banyak. Misalnya membagikan undangan, menghias ruangan. Pokoknya kayak seksi repot begitu, deh!" 
"Kalau itu mah kecil. Kebetulan aku sering mendekor ruangan pesta di kompleks rumah aku." 
Tiara tersenyum. Manis banget. Aku menneguk ludah. Kalau saja aku punya keberanian, sudah kucium pipinya itu. 
"Bayangkan, Jok! Tiara memintaku untuk terlibat di pesta ulangtahunnya minggu depan," ucapku semangat begitu Joko duduk di sampingku. 
"Memangnya di pesta Tiara nanti ada badutnya?" 
"Apa hubungannya keterlibatanku di pesta ulang tahun Tiara sama badut?" 
"Bukannya Tiara meminta kamu jadi badut?" 
"Bukan, Setan!" 
"Lantas?" 
"Tiara memintaku membagikan undangan dan mendekor ruangan pestanya." 
"Dan kamu bangga dengan permintaannya itu?" 
"Tentu saja. Berarti Tiara membutuhkan aku." 
Joko terbahak. Aku menatapnya jengkel. Karena kupikir tak ada yang lucu dan pantas untuk ditertawakan. 
"Apanya yang lucu?" 
"Kamu itu, sudah dibodohin, bangga lagi. Dia itu cuma mau manfaatin tenaga kamu. Kirain dia meminta kamu jadi pendampingnya." 
Aku mencibir. Dasar Joko sirik dengan rezekiku. Soalnya aku tahu, kalau dia juga ada hati sama Tiara. Coba kalau dia yang dimintai tolong sama Tiara, pasti dia juga nggak nolak. 
"Cemburu?" 
"Cemburu sama kamu?" Mendelik mata Joko. "Yang benar saja. Tiara itu bukan level kita. Kamu saja yang nggak tahu diri dan mau dibodohi sama dia."***
Di pesta ulang tahun Tiara. Aku duduk kecapekan di teras belakang rumah. Nafasku ngos-ngosan. Aku memang capek luar biasa. Dari pagi sampai tadi kerja terus. Nggak ada istirahatnya. Semua memang aku kebut sendirian. Dari mengangkati sofa-sofa ke luar ruangan, mendekor ruangan, sampai mengambil pesanan kue ulangtahun. Aku babat sendirian. 
Meski letihnya setengah mati, aku cukup senang bisa membahagiakan Tiara. Setidaknya Tiara jadi tahu kalau aku ini bisa diandalkan. Aku tersenyum bangga. Segera aku bangkit. Kudengar suara-suara dari ruang depan. Tamu-tamu sudah datang rupanya. Aku harus segera mandi dan tampil maksimal. Biar sebanding kalau nantinya berdiri di samping Tiara saat pemotongan kue. 
Untung aku bawa baju dan peralatan mandi. Aku mandi di kamar mandi pembantu. Kedua pipiku kusabuni sampai benar-benar kinclong. Barangkali saja nanti dapat jatah ciuman dari Tiara.. 
Sehabis mandi, aku dandan sebentar. Memakai jas kawin Ayahku dulu yang kuambil diam-diam. Sekalian juga memakai dasi kupu-kupu yang kupinjam dari Mas Seno, tetanggaku. Kusisir rambutku yang keriting. Biar nggak terlihat seperti sarang tawon. Setelah semuanya cukup pantas, aku masuk ke ruangan tengah yang telah kusulap menjadi arena pesta. 
Aku berjalan dengan dada membusung dan wajah terangkat. Kulepas senyum ke segala arah dan sudut. Kurasakan seluruh mata tertuju padaku. Andai aku selebritis, pastinya kilatan blitz akan mengarah padaku saja. 
Kudekati Tiara yang tengah berbincang dengan Lia. Duh, aku terpesona melihatnya. Dia terlihat seperti bidadari dengan balutan gaun berwarna biru muda begitu. Bahunya yang terbuka terlihat sangat mulus dan kinclong. 
"Beth, bisa tolong aku?" 
"Apa yang nggak bisa aku bantu buat kamu. Robert gitu, loh!" 
Tiara tersenyum senang. "Tolong dong, aturin kendaraan di luar. Katanya semrawut. Jadi susah parkirnya. Sekalian kamu jaga juga. Biar nggak ada yang hilang." 
"Oke. Itu sih kecil." 
"Kamu baik, deh!" Tiara menowel pipi kananku. Aku terkaget karenanya. 
Aku keluar. Memang benar mobil parkir semrawut. Ada yang melintang kanan, ada yang melintang kiri. Waduh, baru belajar setir mobil barangkali semuanya. Parkir saja tidak becus. 
"Woi, dekorator merangkap jadi tukang parkir juga?" 
Aku menoleh. Joko tertawa terbahak melihatku. Aku mencibir jelek. 
"Ngapain kamu datang? Memangnya diundang?" 
Tanpa menjawab Joko mengacungkan undangan di tangannya. 
"Bawa kado nggak? Kalau nggak, nggak boleh masuk." 
"Tuh ada yang mau parkir." 
Aku menoleh. Mobil sedan mulus terlihat masuk. Aku berlari menyongsong. Joko tertawa-tawa masuk ke dalam. 
"Kiri! Kiri! Terus! Ya, hop!" 
Seorang pria keluar dari dalam mobil. 
"Lama benar datangnya, Mas! Parkiran sudah semrawut, nih." 
Matanya memicing menatapku. "Apa hubungannya parkiran sama aku?" 
"Bukannya Mas satpam di rumah ini?" 
"Enak saja. Aku ini pilot. Bukan satpam. Baca nih. Nggak pernah naik pesawat, ya?! Kasihan deh, lu!" 
Aku garuk kepala. Eh, benar juga. Sial deh. Kirain satpam. Seragamnya mirip sih. 
"Maaf deh, Mas." 
"Kerja yang benar. Jaga mobil aku. Awas kalau sampai lecet." 
"Iya...." 
Dia berlalu. Gagah nian gayanya. Kulihat ia membawa seikat bunga. 
Kudengar lagu selamat ulangtahun mengalun dari dalam. Aku harus ada di samping Tiara, nih. Segera aku masuk. Kulihat si Pilot tadi berdiri di samping Tiara. Ia membantu Tiara memotong tart tiga tingkat itu. Tiara memberikan potongan itu padanya. Baru sekali para undangan meneriakkan kata cium, si Pilot itu sudah mencaplok bibir Tiara. Anehnya Tiara cuma ketawa saja. 
Dadaku terbakar melihatnya. 
"Teman-teman, ini namanya Mas Teguh. Pacar Tiara. Tiara sangat bahagia, meski sangat sibuk, Mas Teguh masih menyempatkan diri untuk datang ke pesta ini." 
Aku terperanjat. Pria itu pacarnya? Jadi....selama ini Tiara menganggapku apa? 
Kaki kuhentak kesal. Aku berbalik. 
"Beth, mau kemana?" Joko mengejarku. 
"Pulang!" sahutku ketus. 
Di parkiran kulihat mobil mulus tadi. Aku tersenyum licik. Kukempeskan seluruh ban mobil itu. Biarin deh. Nggak berani mengempeskan orangnya, mobilnya juga jadi. 
Joko cuma angkat bahu. Lantas ia berbalik kembali masuk ke ruangan. 
"Jok, tega kamu ya...." 
Matanya memicing. 
"Teman lagi sedih, malah kamu tinggalkan begitu saja." 
Joko terbahak. "Aku juga bilang apa? Kamu yang kege-eran. Jadi pulang saja sendiri. Gila aja aku tinggalkan makanan-makanan enak di dalam." 
Aku terdiam. Lunglai aku melangkah pulang. Tiba-tiba perutku terasa perih, baru terasa laparnya sekarang. Terbayang makanan-makanan enak di ruang pesta tadi. Liurku berlomba keluar. Kebimbangan menyergap. Terus pulang atau berbalik. 
Akhirnya aku berbalik. Seperti kata Joko. Gila aja meninggalkan makanan-makanan enak. Nggak dapat orangnya, dapat makanannya juga jadi. Akan aku habiskan semuanya. Biar si Pilot itu nggak dapat apa-apa. Biar perutnya kempes mirip ban mobilnya. Hahahaha.... ©

 

♥Bu Eva Journal♥ Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting