Tampilkan postingan dengan label rumah tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah tangga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 November 2011

Agar Pernikahan dan Pekerjaan Bertahan Bersama

Diposting oleh eva yuanita di 11/12/2011 09:25:00 PM 0 komentar
TEMPO Interaktif, Jakarta – Dalam sebuah acara di stasiun televisi swasta, seorang konsultan karir dan keuangan, yang menjadi narasumber, mengatakan: “Jangan jadikan gaji dari kantor sebagai satu-satunya sumber penghasilan.” Kalau kantor atau perusahaan tempat dia bekerja tutup, ia akan mengalami kesulitan keuangan. Apalagi jika istrinya tidak bekerja, atau sebagai ibu rumah tangga.
Ketika seorang karyawan terkena pemutuhan hubungan kerja (PHK), satu sumber penghasilan itu pun berhenti. Masih mendingan jika istrinya membuka usaha sendiri. Ia bisa bergabung dengan istri untuk menjalankan bisnisnya bersama-sama. Bagaimana agar pernikahan dan pekerjaan yang dilakukan bersama-sama itu bisa bertahan bersama-sama pula?
Kolumnis The Wall Street Journal, Sue Shellenbarger, menemukan sejumlah pasangan suami-istri yang mengelola bisnis bersama-sama setelah si suami atau istri terkena PHK. Suami bergabung dengan bisnis istrinya, atau istri turut menjalankan bisnis suami, setelah terkena PHK. Shellenbarger menekankan: “Hal ini perlu dipikirkan cara untuk menjaga agar pernikahan tetap sehat.”
Seorang suami, yang ditemui Shellenbarger, menceritakan bahwa ia harus memberi istrinya sebuah review kinerja. Dan hal itu dirasa sebagai percakapan yang sangat sulit. “Saya sudah siap muntah,” tutur si suami itu.
Pasangan lain yang ditemukan, setelah membuka toko yoghurt bersama, gaya manajemen mereka bentrok. Si suami lebih suka memainkan peran seorang manajer, sementara istrinya mengambil pendekatan untuk menangani sendiri pekerjaan, seperti mengepel lantai, bukannya memerintahkan orang lain untuk melakukannya.
Ketika perbedaan-perbedaan mereka menyebabkan ketegangan, mereka menyelesaikan masalah dengan memisahkan hari kerja; suami bekerja siang dan istri bekerja malam hari. Pasangan ini mengatakan bekerja sama telah membawa mereka lebih dekat.
Semua pasangan setuju bahwa batas-batas perusahaan sangat penting untuk menjaga perkawinan sehat ketika Anda bekerja bersama-sama. Pertama, mereka membagi tanggung jawab di tempat kerja, membuat deskripsi pekerjaan yang terpisah dan mencoba untuk menghindari gangguan dengan pekerjaan masing-masing. Dan di rumah, mereka setuju satu sama lain dilarang bicara bisnis di kamar tidur. Yang lain membuat suci meja makan, hanya untuk percakapan keluarga. Merencanakan sebulan sekali piknik luar kota, dengan sedikit mungkin bicara bisnis.

NF/The Wall Street Journal

Mengapa Komunikasi Mesra Penting

Diposting oleh eva yuanita di 11/12/2011 09:10:00 PM 0 komentar
VIVAnews - Komunikasi adalah kunci keharmonisan sebuah hubungan rumah tangga. Namun, komunikasi hangat seringkali sirna usai menikah.
Merasa sudah tinggal bersama di satu atap, banyak pasangan yang tanpa sadar mengurangi intensitas komunikasi mesra dan akhirnya memicu ketegangan.
Seperti dikutip dari laman Modernmom.com, studi Ohio State University menunjukkan, perkawinan yang tegang secara fisik akibat hilangnya komunikasi mesra memengaruhi kelanggengan rumah tangga.
Sebanyak 37 pasangan menikah yang berpartisipasi dalam studi ini menyatakan, tak jarang ketegangan itu memicu tindak kekerasan dalam rumah tangga. Mayoritas responden mengaku memiliki luka di tubuh akibat kekerasan yang dilakukan pasangan.
Sebelum membuat kesimpulan, para peneliti juga mengevaluasi jenis komunikasi antara suami dan istri yang menyebabkan timbulnya kekerasan dalam rumah tangga.
Mereka menemukan bahwa gaya komunikasi memengaruhi keharmonisan rumah tangga. Gaya komunikasi yang positif biasanya akan menimbulkan luka ringan dan mudah disembuhkan. Sementara gaya komunikasi negatif memicu luka yang sulit sembuh.
Debra Umberson, profesor sosiologi di Universitas Texas mengatakan, kondisi rumah tangga juga memengaruhi kesehatan fisik pasangan. Pasangan dengan tingkat stres tinggi di dalam perkawinannya memiliki fungsi kekebalan tubuh yang memburuk, tekanan darah tinggi dan detak jantung tak stabil.
Sementara wanita, secara umum, mengatakan, “Perkawinan yang stres sangat berbahaya dan bisa menyebabkan masalah kronis dalam jangka panjang. Anda tidak akan bisa lolos dari masalah yang Anda alami dari masa kemasa.”
Jadi, menjalin komunikasi sangat penting untuk membangun suatu hubungan yang harmonis dan menjaga kesehatan emosional. Karena itu semua akan berujung pada kondisi kesehatan fisik. (adi)

Makan Bersama Keluarga – Apa Masih Jamannya?

Diposting oleh eva yuanita di 11/12/2011 09:09:00 PM 0 komentar
Seberapa penting sih makan bersama keluarga itu? Di jaman yang serba sibuk ini, memang susah sekali untuk meluangkan waktu untuk duduk dan makan bersama anggota keluarga. Dengan kesibukan masing-masing dan waktu pulang yang tidak bersamaan, pasti sulit sekali untuk mengatur waktu.
Ternyata, baru-baru ini ada penelitian yang dilakukan oleh University of Illinois di Urbana-Champaign, Amerika, yang menemukan hubungan yang erat antara makan malam keluarga dengan obesitas. Fakta yang ditemukan oleh tim ini setelah menganalisa 17 studi kasus mengenai obesitas, gangguan makan dan makan bersama keluarga adalah anak-anak yang orang tuanya terbiasa untuk makan malam bersama memiliki resiko lebih rendah untuk mengalami gangguan makan dan obesitas.
Hasil yang lebih terperinci dari penelitian ini adalah anak yang duduk makan bersama keluarga paling kurang dua atau tiga kali seminggu memiliki kemungkinan 12 persen lebih rendah untuk angka mengalami overweight. Juga kemungkinan 20 persen lebih rendah untuk angka anak mengalami gangguan makan. Kebiasaan untuk duduk makan malam bersama keluarga juga akan mengurangi kemungkinan anak makan junk food sebanyak 20 persen dan 24 persen peningkatan dalam jumlah anak yang mengkonsumsi makanan sehat.
Bukan hanya itu, kebiasaan makan bersama juga membantu kesehatan mental anak-anak remaja. Kebiasaan ini membantu meningkatkan kualitas komunikasi antara remaja dan orang tua menjadi lebih baik, yang mana sangat sulit untuk didapatkan saat ini. Makan bersama juga akan membantu anak-anak dalam pertumbuhan untuk mengembangkan kebiasaan makan yang lebih sehat sehingga anak-anak kita akan terhindar dari penyakit.
Jadi, setelah tahu manfaatnya, sekarang saatnya kita mempraktekkannya.

Enam Pemicu Pernikahan Gagal

Diposting oleh eva yuanita di 11/12/2011 09:02:00 PM 0 komentar
VIVAnews - Usai mengucap janji pernikahan, setiap pasangan tentu berniat menjaga hubungan harmonis selamanya. Namun seiring berjalannya waktu, mereka seringkali tanpa sadar menunjukkan sikap yang menggoyahkan pijakan bagi sebuah pernikahan yang stabil.
Ada enam hal yang menjadi penyebab utama gagalnya pernikahan, seperti dikutip dari Your Tango.
Terlalu bergantung pada pasanganBerharap pasangan dapat memenuhi segala kebutuhan dan keinginan Anda sangat sulit tercipta dalam kehidupan nyata. Mungkin, pada awalnya ia akan berusaha keras untuk menjadi yang paling sempurna dan memenuhi semua keinginan Anda.
Tetapi, satu kebutuhan tidak dapat dipenuhi hanya seorang diri. Untuk itu, hargai apa yang diberikan pasangan Anda dan cobalah membantunya bila dibutuhkan.
Hanya memikirikan diri sendiriSaat menikah, lupakan berpikir hanya tentang diri sendiri. Karena ikatan baru ini artinya menggabungkan dua kehidupan. Saling kompromi dan mengurangi egoisme antarpasangan adalah solusinya.
Menjadikan pasangan pusat kehidupanDalam kenyataan, pernikahan tak seperti film romantis yang hanya memikirkan kebahagiaan pasangan. Perkawinan memang sesuatu yang istimewa, tetapi jangan sampai melupakan hidup Anda dan menjadikan pasangan sebagai pusat kehidupan. Sembari saling belajar satu sama lain, berikan pasangan dan diri sendiri ruang untuk tumbuh.
Pikiran tentang kebahagiaan menjadi terpentingSetiap pasangan yang menikah mendambakan kebahagiaan. Namun, kebahagiaan bukanlah hal yang paling penting dalam pernikahan. Pakar perkawinan Dr Corey Allan menyatakan, yang paling penting dalam pernikahan adalah pelajaran untuk lebih baik. Dan, seringkali proses mencapai kebahagiaan kita harus mengalami sesuatu yang menyakitkan.
Membandingkan pernikahan dengan orang lainMembandingkan pernikahan yang sedang dijalani dengan orang lain cenderung berujung pada kegagalan. Menemukan sesuatu yang tidak dimiliki dalam hubungan dengan pasangan, bisa menimbulkan sakit hati dan ketidakpuasan. Akibatnya, bisa memicu keretakan hubungan.
Menganggap pernikahan hanya perasaan romantisGairah akan memudar seiring berjalannya waktu. Agar pernikahan tetap langgeng, Anda dan pasangan harus berkomitmen dan tidak peduli bagaimana perasaan Anda.
Perasaan romantis dapat datang dan pergi, tetapi kebersamaan dan kasih sayang dapat terus dipupuk. Pasangan bisa berakting sebagai pelajar yang selalu belajar mengenai mitranya. Ini akan membuat pasangan tetap mempertahankan ketertarikan dan perasaan cinta.

• VIVAnews
 

♥Bu Eva Journal♥ Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting